LANGIT7.ID-Jakarta; Amerika Serikat berpeluang kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia hanya 12 tahun setelah edisi 2026. Di tengah lonjakan pendapatan FIFA yang mencapai miliaran dolar AS, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka meminta Presiden FIFA Gianni Infantino agar turnamen sepak bola terbesar di dunia itu kembali digelar di negaranya pada 2038.
Permintaan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan menjelang final Piala Dunia.
"Kita harus melakukannya lagi dan kita harus melakukannya saat saya masih ada di sini, dengar itu, Gianni?" kata Trump.
Ucapan tersebut muncul ketika wacana pencalonan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2038 semakin ramai diperbincangkan di kalangan pejabat sepak bola dunia. Selama sebulan terakhir, banyak administrator sepak bola yang berada di Amerika Serikat menilai negara itu memiliki antusiasme luar biasa terhadap penyelenggaraan ajang olahraga besar, sekaligus pasar yang bersedia mengeluarkan biaya tinggi untuk menghadirinya.
FIFA pun disebut telah lama diam-diam mendorong Amerika Serikat untuk kembali mengajukan pencalonan. Gambaran mengenai alasannya semakin jelas dalam pertemuan FIFA di Waldorf Astoria, Park Avenue, New York, pada Sabtu.
Dalam pertemuan tersebut, Gianni Infantino menyampaikan kepada perwakilan dari 211 asosiasi anggota FIFA bahwa proyeksi pendapatan organisasi itu untuk siklus empat tahun saat ini meningkat dari 11 miliar dolar AS (sekitar Rp179 triliun) menjadi 15 miliar dolar AS (sekitar Rp244 triliun).
Sebagian besar lonjakan itu berasal dari peningkatan pendapatan penjualan tiket dan paket hospitality.
Seorang sumber FIFA mengungkapkan tingginya minat masyarakat, khususnya di Amerika Serikat, membuat pendapatan dari penjualan tiket dan hospitality telah melampaui 5 miliar dolar AS (sekitar Rp81,5 triliun). Untuk pertama kalinya, nilai pasar tersebut bahkan disebut lebih besar dibandingkan pendapatan hak siar televisi Piala Dunia.
"FIFA pasti ingin kembali ke sini secepat mungkin," ujar seorang pejabat senior dari salah satu mitra hospitality FIFA.
Meski penjualan tiket melampaui ekspektasi, didukung sistem harga dinamis dan model penjualan kembali tiket di pasar sekunder yang sudah menjadi bagian dari budaya di Amerika Serikat, FIFA disebut masih kehilangan peluang meraih pemasukan lebih besar dari sektor hak siar televisi.
Hal itu bermula ketika Fox Sports memperoleh hak siar berbahasa Inggris untuk wilayah Amerika Serikat tanpa melalui proses lelang.
Langkah tersebut diambil FIFA sebagai upaya menghindari gugatan hukum setelah Piala Dunia Qatar 2022 dipindahkan ke musim dingin, sementara kontrak hak siar sudah lebih dahulu ditandatangani. Perubahan jadwal itu membuat turnamen berbenturan langsung dengan musim kompetisi olahraga domestik Amerika Serikat, terutama NFL dan NBA.
Karena tidak ada persaingan dalam proses penawaran, Fox hanya membayar 485 juta dolar AS (sekitar Rp7,9 triliun) untuk hak siar Piala Dunia 2026, jumlah yang sama seperti saat Piala Dunia Qatar. Padahal, edisi 2026 menghadirkan tambahan 40 pertandingan dan berlangsung di wilayah Amerika Utara.
Sebagai perbandingan, nilai kontrak hak siar domestik NFL mencapai sekitar 11 miliar dolar AS (sekitar Rp179 triliun) per tahun, sedangkan NBA menghasilkan sekitar 7 miliar dolar AS (sekitar Rp114 triliun).
Fox disebut berhasil memanfaatkan momentum tersebut berkat lonjakan jumlah penonton. Para analis industri memperkirakan perusahaan itu akan meraup lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,3 triliun) dari iklan televisi, yang meningkat baik dari sisi jumlah maupun nilainya karena adanya tambahan jeda hidrasi selama pertandingan.
Melihat besarnya potensi tersebut, FIFA disebut bertekad memaksimalkan kembali pendapatan dari pasar Amerika Serikat pada siklus penjualan hak siar berikutnya.
Setelah menyaksikan Fox meraih keuntungan besar, ESPN dan NBC diperkirakan akan ikut mengajukan penawaran untuk hak siar Piala Dunia 2030. Selain itu, pembicaraan awal juga telah dilakukan dengan Netflix agar ikut bersaing dalam proses lelang.
Netflix sendiri telah menunjukkan minat yang semakin besar terhadap sepak bola setelah membeli hak siar Piala Dunia Putri 2027 dan 2031 di Amerika Serikat. Jika Piala Dunia putra kembali digelar di negara tersebut pada 2038, pasar hak siar diperkirakan kembali mengalami lonjakan.
Meski belum pernah ada negara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia dua kali dalam rentang 12 tahun, aturan FIFA dan keputusan penyelenggaraan terbaru memungkinkan hal itu terjadi.
Setelah Piala Dunia 2030 digelar di Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Paraguay, dan Uruguay, kemudian Arab Saudi menjadi tuan rumah pada 2034, kebijakan rotasi konfederasi FIFA membuka peluang bagi Amerika Utara maupun Oseania untuk mengajukan pencalonan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2038.
Namun, jalan Amerika Serikat tidak sepenuhnya mulus. Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) disebut memiliki sejumlah keberatan karena ingin memberi kesempatan kepada negara anggota lainnya.
Costa Rica, Jamaika, dan Meksiko telah bergabung dalam pencalonan tuan rumah Piala Dunia Putri 2031 sehingga bukan tidak mungkin muncul pencalonan bersama untuk Piala Dunia 2038. Meski begitu, Trump secara terbuka menginginkan Amerika Serikat menjadi tuan rumah tunggal.
"Berdasarkan angka-angka yang ada, kami akan langsung mengajukannya lagi," kata Trump kepada Fox.
Hingga kini FIFA belum mengumumkan jadwal resmi pembukaan proses pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2038. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan proses tersebut bisa berlangsung sangat cepat apabila FIFA ingin mengamankan hasil yang diinginkan.
Infantino diperkirakan kembali terpilih untuk masa jabatan penuh keempat dalam Kongres FIFA tahun depan di Maroko tanpa pesaing. Setelah itu, perhatian dunia diperkirakan akan langsung tertuju pada perebutan hak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2038.
Sementara itu, kecuali terjadi perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Konstitusi Amerika Serikat sehingga memungkinkan tambahan masa jabatan presiden, Trump dijadwalkan meninggalkan jabatannya pada Januari 2029. Tenggat waktu tersebut berpotensi menjadi batas penting bagi FIFA jika ingin mewujudkan keinginan Trump melihat Amerika Serikat kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia. (Theguardian/bil)
(lam)