Sejarah Maulid Nabi, Kecintaan kepada Rasulullah yang Penuh Makna
Fajar adhitya
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 11:50 WIB
Sejarah Maulid Nabi. (Foto: iStock).
Sejarah maulid Nabi pertama memiliki beberapa versi, ada yang bilang dari Mesir dan pendapat lainnya berasal dari Irak, bahkan Madinah. Budaya itu memang bukan dari Rasul.
Menurut Mochammad Yunus dalam 'Peringatan Maulid Nabi' (2019) menuliskan, pendapat pertama berasal diinisiasi Mu'iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada 341 Hijriyah.
Ketika itu Maulid Nabi sempat dilarang pada masa Al Afdhal bin Amir al-Juyusy, perdana menteri khalifah Al-Musta'ali Dinasti Fathimiyah. Namun kembali marak pada masa Abu Ali al-Mansur ibn al-Musta'li di tahun 524 Hijriyah.
Pendapat kedua tradisi maulid merujuk kepada Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak pada tahun 630 Hijriah yang mengadakan acara besar-besaran. Saat itu negara tersebut sedang diinvasi pasukan Jengiz Khan dari Mongol.
Untuk menghadapi ancaman itu, Muzhaffar mengadakan Maulid Nabi selama 7 hari. Dia mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Semua tamu dijamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Sementara menurut Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015), tradisi Maulid Nabi telah ada sejak abad kedua hijriah. Tsauri menulis, berdasarkan catatan Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa'ul Wafa bi Akhbari Daril Musthafa.
Dikatakan bahwa Khaizuran, ibu Amirul Mukminin Musa Al Hadi dan Ar Rasyid, datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan Maulid Nabi di Masjid Nabawi.
Menurut Mochammad Yunus dalam 'Peringatan Maulid Nabi' (2019) menuliskan, pendapat pertama berasal diinisiasi Mu'iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada 341 Hijriyah.
Ketika itu Maulid Nabi sempat dilarang pada masa Al Afdhal bin Amir al-Juyusy, perdana menteri khalifah Al-Musta'ali Dinasti Fathimiyah. Namun kembali marak pada masa Abu Ali al-Mansur ibn al-Musta'li di tahun 524 Hijriyah.
Pendapat kedua tradisi maulid merujuk kepada Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak pada tahun 630 Hijriah yang mengadakan acara besar-besaran. Saat itu negara tersebut sedang diinvasi pasukan Jengiz Khan dari Mongol.
Untuk menghadapi ancaman itu, Muzhaffar mengadakan Maulid Nabi selama 7 hari. Dia mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Semua tamu dijamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Sementara menurut Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015), tradisi Maulid Nabi telah ada sejak abad kedua hijriah. Tsauri menulis, berdasarkan catatan Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa'ul Wafa bi Akhbari Daril Musthafa.
Dikatakan bahwa Khaizuran, ibu Amirul Mukminin Musa Al Hadi dan Ar Rasyid, datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan Maulid Nabi di Masjid Nabawi.