home masjid

Dosa Menyembunyikan Ilmu: Bayang-Bayang Moral yang Sulit Dihindari

Sabtu, 29 November 2025 - 17:57 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID- Dalam bukunya, at Taubat Ila Allah,Syaikh Yusuf al Qardhawi mengulas satu dosa yang, menurutnya, paling sering mengintai para pemegang otoritas ilmu: menyembunyikan kebenaran. Istilah itu merujuk pada tindakan menahan informasi yang seharusnya disampaikan kepada publik—kadang karena takut, kadang karena kepentingan. Di halaman awal, Qardhawi mengutip peringatan al Quran terhadap ahlul kitab yang mengingkari janji mereka untuk menjelaskan isi wahyu.

Firman Allah berbunyi: Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya (QS. Ali Imran: 187). Para pemuka agama kala itu menutup berita kedatangan Nabi Muhammad, menukar kebenaran dengan harga murah. Di titik inilah, menurut Qardhawi, praktik penyembunyian kebenaran menjadi bagian dari skandal moral yang terus berulang sepanjang sejarah keagamaan.

Ayat lain memperinci hukuman itu dengan bahasa yang getir: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah ... mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api (QS. al Baqarah: 174-175). Hukuman yang bukan hanya berbentuk siksa fisik, tapi juga pemutusan komunikasi: Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka.

Qardhawi menafsirkan ancaman tersebut sebagai pesan keras bagi siapa pun yang memegang akses pengetahuan tapi memilih bungkam. Dalam perspektifnya, dosa itu berbeda dari kemaksiatan biasa. Ia terjadi justru pada wilayah yang dianggap mulia: ilmu, kata, dan otoritas moral.

Beberapa karya klasik senada dengan gagasan itu. Dalam Ihya’ Ulumiddin, al Ghazali menempatkan penyembunyian ilmu sebagai bagian dari kehancuran sosial karena para pemilik otoritas ilmu menjadi sumber kesesatan baru. Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al Fatawa juga mengkritik ahli ilmu yang mengaburkan dalil demi kedudukan. Sementara itu, dalam adab al ulama, Ibn Abdil Barr memasukkan kewajiban tabyin—menjelaskan kebenaran—sebagai rukun etika ulama.

Namun konteks modern membuat peringatan ini terdengar lebih luas. Jika dulu sasaran utamanya para ahli kitab, Qardhawi memperluas cakupannya ke profesi yang membentuk opini publik: penulis, pengarang, jurnalis, seniman, dan para orator. Kekuatan mereka—yang melekat pada pena, kamera, atau mikrofon—dapat mendorong kebenaran, atau justru menenggelamkannya.

Kasus-kasus pertobatan publik pernah muncul dalam sejarah pemikiran modern Arab. Mushthafa Mahmud, misalnya, meninjau ulang pemikiran filsafatnya dan menulis kembali sikap intelektualnya secara terbuka. Khalid Muhammad Khalid mengalami fase serupa ketika ia menarik sebagian pandangan politiknya, mengumumkan revisinya, dan menerbitkannya di media. Bagi Qardhawi, langkah seperti itulah syarat tobat: bukan hanya penyesalan, tapi juga perbaikan dan penjelasan terang-terangan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya