Pernikahan Massal di Gaza Rayakan Kehidupan Baru Setelah Bertahun-tahun Perang
Tim langit 7
Rabu, 03 Desember 2025 - 23:17 WIB
Pernikahan Massal di Gaza Rayakan Kehidupan Baru Setelah Bertahun-tahun Perang
LANGIT7.ID-Jalur Gaza; Eman Hassan Lawwa mengenakan pakaian bermotif tradisional Palestina dan Hikmat Lawwa mengenakan setelan jas saat mereka berjalan bergandengan tangan melewati bangunan-bangunan runtuh di selatan Gaza, dalam barisan pasangan-pasangan lain yang berpakaian persis sama.
Warga Palestina berusia 27 tahun itu termasuk di antara 54 pasangan yang menikah pada Selasa dalam sebuah pernikahan massal di Gaza yang luluh lantak oleh perang. Momen itu menjadi secercah harapan langka setelah dua tahun kehancuran, kematian, dan konflik.
"Terlepas dari semua yang telah terjadi, kami akan memulai kehidupan baru," kata Hikmat Lawwa. "Insya Allah, ini akan menjadi akhir dari perang," ujarnya.
Pernikahan adalah bagian penting dari budaya Palestina yang menjadi langka di Gaza selama perang. Tradisi ini mulai kembali dilaksanakan menyusul gencatan senjata yang rapuh, meskipun pernikahannya berbeda dari upacara rumit yang pernah digelar di wilayah itu.
Sementara kerumunan yang riuh mengibarkan bendera Palestina di kota Khan Younis selatan, perayaan tersebut tetap diselimuti oleh krisis yang berlanjut di seluruh Gaza. Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza, termasuk Eman dan Hikmat Lawwa, telah mengungsi karena perang. Seluruh kawasan kota rata dengan tanah, sementara kekurangan bantuan dan munculnya kembali konflik terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pasangan muda yang masih memiliki hubungan kekerabatan jauh ini mengungsi ke kota terdekat Deir al-Balah selama perang dan kesulitan menemukan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal. Mereka mengatakan tidak tahu bagaimana akan membangun kehidupan bersama mengingat situasi di sekitar mereka.
"Kami ingin bahagia seperti bagian dunia lainnya. Dulu saya bermimpi memiliki rumah, pekerjaan, dan menjadi seperti orang lain," kata Hikmat. "Hari ini, impian saya adalah menemukan tenda untuk ditinggali."
Warga Palestina berusia 27 tahun itu termasuk di antara 54 pasangan yang menikah pada Selasa dalam sebuah pernikahan massal di Gaza yang luluh lantak oleh perang. Momen itu menjadi secercah harapan langka setelah dua tahun kehancuran, kematian, dan konflik.
"Terlepas dari semua yang telah terjadi, kami akan memulai kehidupan baru," kata Hikmat Lawwa. "Insya Allah, ini akan menjadi akhir dari perang," ujarnya.
Pernikahan adalah bagian penting dari budaya Palestina yang menjadi langka di Gaza selama perang. Tradisi ini mulai kembali dilaksanakan menyusul gencatan senjata yang rapuh, meskipun pernikahannya berbeda dari upacara rumit yang pernah digelar di wilayah itu.
Sementara kerumunan yang riuh mengibarkan bendera Palestina di kota Khan Younis selatan, perayaan tersebut tetap diselimuti oleh krisis yang berlanjut di seluruh Gaza. Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza, termasuk Eman dan Hikmat Lawwa, telah mengungsi karena perang. Seluruh kawasan kota rata dengan tanah, sementara kekurangan bantuan dan munculnya kembali konflik terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pasangan muda yang masih memiliki hubungan kekerabatan jauh ini mengungsi ke kota terdekat Deir al-Balah selama perang dan kesulitan menemukan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal. Mereka mengatakan tidak tahu bagaimana akan membangun kehidupan bersama mengingat situasi di sekitar mereka.
"Kami ingin bahagia seperti bagian dunia lainnya. Dulu saya bermimpi memiliki rumah, pekerjaan, dan menjadi seperti orang lain," kata Hikmat. "Hari ini, impian saya adalah menemukan tenda untuk ditinggali."