home wirausaha syariah

Aset Asuransi Jiwa Tembus Rp648 Triliun, SBN Jadi Tulang Punggung Investasi Industri

Selasa, 09 Desember 2025 - 10:46 WIB
Aset Asuransi Jiwa Tembus Rp648 Triliun, SBN Jadi Tulang Punggung Investasi Industri
LANGIT7.ID-Jakarta;Industri asuransi jiwa mencatat penguatan struktur keuangan sepanjang sembilan bulan 2025. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan total aset pelaku industri mencapai Rp648,58 triliun hingga akhir September 2025, naik tipis 2,9 persen secara tahunan. Konsistensi pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa fondasi permodalan sektor asuransi jiwa tetap terjaga di tengah perubahan pasar.

Ketua Bidang Operational of Excellence AAJI, Yurivanno Gani, menilai stabilitas aset tersebut memainkan peran penting dalam menjaga sentimen publik terhadap industri. Ia menegaskan bahwa kondisi keuangan yang sehat merupakan kunci mempertahankan kepercayaan jangka panjang.

“Stabilnya total aset industri asuransi jiwa mencerminkan bahwa industri ini memiliki ketahanan bisnis yang kuat serta kesehatan keuangan yang baik untuk menjaga kepercayaan masyarakat,” ucap dia dalam keterangannya, dikutip Selasa (9/12/2025).

AAJI mencatat bahwa sebagian besar aset perusahaan asuransi jiwa tetap diorientasikan pada instrumen investasi jangka panjang. Dari total aset, porsi investasi mencapai Rp571,40 triliun atau sekitar 88,1 persen. Alokasi besar ini dirancang untuk memastikan tersedianya dana pembayaran manfaat asuransi di masa mendatang.

Salah satu instrumen yang mengalami akselerasi adalah Surat Berharga Negara (SBN). Menurut Yurivanno, sektor asuransi jiwa masih menjadikan SBN sebagai pilihan utama.

“Mayoritas itu masih dipegang surat berharga nasional di mana SBN ini tumbuh 15,2 persen menjadi Rp236,88 triliun. Ini mencerminkan komitmen industri asuransi jiwa dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui pembiayaan program-program pemerintah,” ujarnya.

SBN dinilai cocok dengan profil kewajiban perusahaan asuransi yang membutuhkan instrumen stabil berjangka panjang. Karena itu, pergeseran komposisi aset menuju instrumen berisiko lebih rendah dianggap sejalan dengan kebutuhan industri menjaga keberlanjutan arus pembayaran manfaat polis.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya