LANGIT7.ID-Jakarta; Industri asuransi jiwa mencatat penguatan struktur keuangan sepanjang sembilan bulan 2025. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan total aset pelaku industri mencapai Rp648,58 triliun hingga akhir September 2025, naik tipis 2,9 persen secara tahunan. Konsistensi pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa fondasi permodalan sektor asuransi jiwa tetap terjaga di tengah perubahan pasar.
Ketua Bidang Operational of Excellence AAJI, Yurivanno Gani, menilai stabilitas aset tersebut memainkan peran penting dalam menjaga sentimen publik terhadap industri. Ia menegaskan bahwa kondisi keuangan yang sehat merupakan kunci mempertahankan kepercayaan jangka panjang.
“Stabilnya total aset industri asuransi jiwa mencerminkan bahwa industri ini memiliki ketahanan bisnis yang kuat serta kesehatan keuangan yang baik untuk menjaga kepercayaan masyarakat,” ucap dia dalam keterangannya, dikutip Selasa (9/12/2025).
AAJI mencatat bahwa sebagian besar aset perusahaan asuransi jiwa tetap diorientasikan pada instrumen investasi jangka panjang. Dari total aset, porsi investasi mencapai Rp571,40 triliun atau sekitar 88,1 persen. Alokasi besar ini dirancang untuk memastikan tersedianya dana pembayaran manfaat asuransi di masa mendatang.
Salah satu instrumen yang mengalami akselerasi adalah Surat Berharga Negara (SBN). Menurut Yurivanno, sektor asuransi jiwa masih menjadikan SBN sebagai pilihan utama.
“Mayoritas itu masih dipegang surat berharga nasional di mana SBN ini tumbuh 15,2 persen menjadi Rp236,88 triliun. Ini mencerminkan komitmen industri asuransi jiwa dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui pembiayaan program-program pemerintah,” ujarnya.
SBN dinilai cocok dengan profil kewajiban perusahaan asuransi yang membutuhkan instrumen stabil berjangka panjang. Karena itu, pergeseran komposisi aset menuju instrumen berisiko lebih rendah dianggap sejalan dengan kebutuhan industri menjaga keberlanjutan arus pembayaran manfaat polis.
Berbeda dengan SBN, penempatan dana pada saham justru turun menjadi Rp124,57 triliun atau melemah 14 persen secara tahunan. Meski begitu, industri tidak sepenuhnya mengurangi ketergantungannya pada pasar modal, melainkan melakukan penyesuaian sementara sesuai dinamika likuiditas.
"Kalau dilihat trennya kenapa (porsi) saham menurun dibanding SBN, karena sebetulnya kenaikan IHSG itu baru terjadi di kuartal ketiga. Sementara bagi asuransi, mungkin sudah ada penempatan di deposito atau instrumen lain yang tidak bisa langsung dicairkan dan dipindahkan ke saham secara instan," jelasnya.
Yurivanno menekankan bahwa perubahan portofolio investasi membutuhkan waktu karena mengikuti kebijakan masing-masing perusahaan. Namun ia melihat peluang kembali meningkatnya porsi saham jika kondisi pasar modal terus membaik. "Apakah dalam jangka waktu dekat akan banyak perusahaan asuransi yang masuk (berinvestasi) ke saham? Bisa jadi, saya lihat (ada kemungkinan tersebut) dengan kenaikan (level IHSG) yang signifikan seperti ini," ujarnya.
Sementara itu, beberapa instrumen lain turut memperlihatkan pergerakan positif. Penyertaan langsung tumbuh 9 persen menjadi Rp30,24 triliun, sedangkan aset bangunan dan tanah meningkat 5,8 persen menjadi Rp16,96 triliun. Di sisi lain, dana di deposito turun 4,1 persen menjadi Rp33,17 triliun karena sebagian perusahaan memilih instrumen lain yang lebih sesuai kebutuhan jangka panjang.
AAJI menegaskan bahwa strategi investasi industri diarahkan untuk tetap adaptif terhadap dinamika pasar tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. “Kami mengedepankan strategi investasi yang adaptif dan berorientasi pada perlindungan nasabah serta manajemen risiko yang komprehensif," ujar dia. (Antara)
(lam)