home masjid

Perhatian Umar pada Pembebasan, Bukan Pengikisan Bibit-Bibit Fitnah dari Akarnya

Selasa, 09 Desember 2025 - 16:40 WIB
Sejarah memperlihatkan, fokus pada kemenangan sering kali membuat pemimpin lalai melihat titik-titik gelap yang tumbuh di pinggir cahaya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tahun-tahun awal kekhalifahan Umar bin Khattab, batas-batas dunia Arab bergeser lebih cepat dari kesadaran masyarakatnya sendiri. Kemenangan demi kemenangan membuat Madinah berubah dari kota kecil di hijaz menjadi pusat kekuatan baru yang menaklukkan dua kekaisaran besar. Di tengah perubahan raksasa itu, perhatian Umar, seperti dicatat Haekal dan dikuatkan oleh sejarawan modern seperti Hugh Kennedy dan Fred Donner, tersedot pada satu prioritas utama: memastikan bahwa mesin ekspansi berjalan tanpa ragu.

Di meja Umar, laporan tentang pembangkangan kecil, gesekan antarsuku, atau protes masyarakat non-Arab memang ada. Tapi dalam pandangan sang khalifah, itu semua masih dianggap riak biasa dalam proses pembentukan negara baru. Ia menaklukkannya sebagaimana menaklukkan kota-kota besar: cepat, tegas, dan dengan keyakinan bahwa kemenangan politik akan meredakan segala hiruk-pikuk di belakangnya. Yang menjadi fokusnya ialah menjaga moral pasukan, memastikan pembagian ghanimah adil, dan memperkuat rasa percaya diri orang Arab terhadap tatanan baru yang tengah ia bentuk.

Sejarawan Patricia Crone menyebut masa Umar sebagai era yang mendahulukan ekspansi ketimbang konsolidasi sosial. Administrasi baru dibentuk, tetapi pengawasan terhadap relasi kompleks antara Arab, mawali, dan penduduk non-Arab belum mapan. Di Irak, misalnya, para veteran perang menetap dalam sistem garnisun yang memisahkan mereka dari masyarakat setempat. Kebijakan itu efektif menjaga kekuatan militer, tetapi juga menunda integrasi sosial. Sebagian penduduk lokal Persia, bekas pejabat Sasaniyah, atau kelompok Ahli Kitab melihat perubahan cepat itu sebagai ancaman posisi lama mereka.

Di dalam Arab sendiri, bibit-bibit rivalitas antarsuku mulai kelihatan. Banu Hasyim, Banu Umayyah, dan suku-suku besar lainnya bergerak dalam kompetisi tak terlihat untuk mempengaruhi administrasi provinsi. Umar memecat atau memindahkan gubernur yang dianggap bermasalah, tetapi ia tidak membangun mekanisme permanen untuk meredam konflik sosial yang lebih dalam. Dalam catatan al-Tabari, banyak keputusan Umar bersifat kasus per kasus—efektif, namun tidak mencegah ketegangan yang terus tumbuh di bawah permukaan.

Komplotan kecil seperti kasus Hormuzan, Jufainah, dan Abu Lu'lu'ah Fairuz—yang kemudian berujung pada pembunuhan Umar—menjadi penanda bahwa gejolak itu tidak lagi sekadar persoalan disiplin pejabat atau ketidakpuasan ekonomi. Haekal menyebut peristiwa ini sebagai sinyal awal bahwa ketidakharmonisan antara Arab dan non-Arab mulai menyatu dengan ketegangan politik internal, membentuk benih fitnah yang kelak membesar.

Namun Umar, yang memimpin di tengah tekanan kampanye militer bertahun-tahun, tidak melihat bahaya itu sebagai ancaman eksistensial. Baginya, fitnah adalah gangguan yang bisa ditangani sepanjang negara kuat dan perang dimenangkan. Ia tidak membayangkan bahwa di masa mendatang, bibit-bibit itu akan tumbuh menjadi perpecahan besar di tubuh umat Islam.

Di tahun-tahun awal pemerintahan Utsman, ilusi stabilitas itu masih terasa. Administrasi berjalan, tunjangan rakyat dinaikkan, dan penaklukan tetap meluas. Banyak sejarawan mencatat bahwa enam tahun pertama pemerintahan Utsman bahkan lebih tenang daripada era Umar. Tidak ada tanda bahwa dunia Islam akan dilanda gejolak yang mengubah wajah kekhalifahan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya