home masjid

Perempuan Baru di Ruang Lama: Balqis, Musa, dan Kepemimpinan Etis

Rabu, 10 Desember 2025 - 05:15 WIB
Istri Firaun ditampilkan sebagai penegas nurani, yang menghentikan niat pembunuhan atas bayi Musa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di ruang kelas sebuah pusat studi di Jakarta Selatan, belasan perempuan muda duduk menghadap papan tulis. Tak ada jilbab panjang atau kitab-kitab tebal seperti bayangan sebagian orang. Di layar proyektor justru terpampang slide bertuliskan: Balqis, Musa, dan Kepemimpinan Etis. Mereka membahas bagaimana tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Qur’an dapat dibaca ulang sebagai fondasi etos kepemimpinan perempuan masa kini.

Diskusi seperti itu, belakangan, semakin marak. Kajian perempuan berbasis teks klasik digabung dengan riset sosial modern. Pada salah satu sesi, seorang peserta mengutip Fatawa Qardhawi. Ia menjelaskan bagaimana Syaikh Yusuf al-Qardhawi menempatkan perempuan-perempuan dalam Al-Qur’an sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar figur sampingan.

Hawa dipandang sebagai pasangan yang hadir sejak awal penciptaan. Istri Fir’aun ditampilkan sebagai penegas nurani, yang menghentikan niat pembunuhan atas bayi Musa. Putri-putri Madyan menjadi contoh kecerdasan sosial: menilai karakter Musa, lalu merekomendasikannya sebagai tenaga kerja karena amanah dan kuat. Dan Balqis, ratu Yaman, menjadi simbol pemimpin yang musyawarah dan tidak gegabah.

Di tengah riuh perubahan zaman, kisah-kisah itu menemukan pembacanya kembali.

Menurut antropolog Kathryn Robinson, perempuan Indonesia sedang menjalani babak baru transformasi sosial: mobilitas pendidikan meningkat, akses ekonomi kian terbuka, dan ruang digital menawarkan panggung tanpa batas. Namun di balik itu, perempuan masih harus menavigasi norma moral dan religius yang melekat kuat dalam budaya Nusantara.

Di sela diskusi, peserta lain menyodorkan riset Amina Wadud dan Asma Barlas yang kerap digunakan generasi muda Muslim untuk membaca ayat secara kontekstual. Mereka menempatkan para tokoh perempuan Qur’ani sebagai instrumen refleksi moral, bukan sekadar dalil hukum. “Balqis itu bukan sekadar ratu,” kata salah satu peserta, “tapi role model bagaimana kekuasaan bisa diimbangi musyawarah dan kebijaksanaan.”

Para peserta menyambungkan kisah-kisah itu ke aktivitas sehari-hari mereka: mengelola komunitas literasi, mengurus koperasi digital, memimpin tim kreatif startup, atau merintis gerakan sosial lingkungan. Mereka membaca ulang kisah putri Madyan sebagai legitimasi bahwa perempuan boleh menilai kompetensi laki-laki dalam kerja profesional. Kisah istri Fir’aun dipakai untuk menegaskan pentingnya suara keberanian moral di tengah struktur kekuasaan. Sementara figur Maryam dibahas sebagai simbol integritas spiritual dalam tekanan publik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya