LANGIT7.ID- Di ruang kelas sebuah pusat studi di Jakarta Selatan, belasan perempuan muda duduk menghadap papan tulis. Tak ada jilbab panjang atau kitab-kitab tebal seperti bayangan sebagian orang. Di layar proyektor justru terpampang slide bertuliskan: Balqis, Musa, dan Kepemimpinan Etis. Mereka membahas bagaimana tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Qur’an dapat dibaca ulang sebagai fondasi etos kepemimpinan perempuan masa kini.
Diskusi seperti itu, belakangan, semakin marak. Kajian perempuan berbasis teks klasik digabung dengan riset sosial modern. Pada salah satu sesi, seorang peserta mengutip
Fatawa Qardhawi. Ia menjelaskan bagaimana Syaikh Yusuf al-Qardhawi menempatkan perempuan-perempuan dalam Al-Qur’an sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar figur sampingan.
Hawa dipandang sebagai pasangan yang hadir sejak awal penciptaan. Istri Fir’aun ditampilkan sebagai penegas nurani, yang menghentikan niat pembunuhan atas bayi Musa. Putri-putri Madyan menjadi contoh kecerdasan sosial: menilai karakter Musa, lalu merekomendasikannya sebagai tenaga kerja karena amanah dan kuat. Dan Balqis, ratu Yaman, menjadi simbol pemimpin yang musyawarah dan tidak gegabah.
Di tengah riuh perubahan zaman, kisah-kisah itu menemukan pembacanya kembali.
Menurut antropolog Kathryn Robinson, perempuan Indonesia sedang menjalani babak baru transformasi sosial: mobilitas pendidikan meningkat, akses ekonomi kian terbuka, dan ruang digital menawarkan panggung tanpa batas. Namun di balik itu, perempuan masih harus menavigasi norma moral dan religius yang melekat kuat dalam budaya Nusantara.
Di sela diskusi, peserta lain menyodorkan riset Amina Wadud dan Asma Barlas yang kerap digunakan generasi muda Muslim untuk membaca ayat secara kontekstual. Mereka menempatkan para tokoh perempuan Qur’ani sebagai instrumen refleksi moral, bukan sekadar dalil hukum. “Balqis itu bukan sekadar ratu,” kata salah satu peserta, “tapi role model bagaimana kekuasaan bisa diimbangi musyawarah dan kebijaksanaan.”
Para peserta menyambungkan kisah-kisah itu ke aktivitas sehari-hari mereka: mengelola komunitas literasi, mengurus koperasi digital, memimpin tim kreatif startup, atau merintis gerakan sosial lingkungan. Mereka membaca ulang kisah putri Madyan sebagai legitimasi bahwa perempuan boleh menilai kompetensi laki-laki dalam kerja profesional. Kisah istri Fir’aun dipakai untuk menegaskan pentingnya suara keberanian moral di tengah struktur kekuasaan. Sementara figur Maryam dibahas sebagai simbol integritas spiritual dalam tekanan publik.
Sementara itu, di warung kopi sekitar kampus, sekelompok perempuan aktivis yang menafsir ulang Qardhawi sebagai dorongan intelektual untuk tetap kritis terhadap budaya imitasi. Mereka mengingat bagian dalam Fatawa Qardhawi tentang bahaya meniru Barat secara buta. Namun, menurut mereka, masalahnya bukan Barat atau Timur, melainkan hilangnya kemampuan menilai manfaat dan moral. Mereka menafsir ulang pesan itu sebagai ajakan untuk mempertahankan kemandirian berpikir di tengah gempuran konten digital dan gaya hidup instan.
Dalam catatan akademisi seperti Saba Mahmood, agency atau daya gerak perempuan tidak selalu muncul dalam bentuk perlawanan langsung. Sering kali ia hadir dalam bentuk negosiasi halus: memilih, menyaring, memaknai ulang, menata ulang ruang-ruang relasi. Fenomena itu sangat kentara dalam komunitas perempuan urban Indonesia hari ini.
Di Makassar, seorang pengusaha muda mengaku terinspirasi kisah Balqis saat mengembangkan model manajemen partisipatif di usaha rintisannya. Di Jawa Tengah, komunitas perempuan tani mengidentifikasi kisah putri Madyan sebagai metafora etos kerja yang amanah dan adil. Di media sosial, influencer hijabers mengulas kembali kisah istri Fir’aun sebagai cermin empati dan visi jauh ke depan.
Jika kisah-kisah itu terasa jauh dari realitas modern, justru itulah yang membuatnya relevan. Menurut buku-buku kajian hermeneutika Qur’an modern, kisah adalah jembatan: ia menghubungkan masa silam dengan persoalan hari ini. Dan perempuan-perempuan Indonesia sedang menyeberangi jembatan itu sambil membangun jalur baru di atasnya.
Dalam satu sesi diskusi, seorang peserta membaca ulang ayat Balqis yang berkata: Tidak pernah kuputuskan sesuatu sebelum kalian hadir dalam majelis. Lalu ia menatap teman-temannya dan berkata pelan, “Kadang kita perlu belajar dari masa lalu untuk membuat masa depan lebih masuk akal.”
Perempuan-perempuan Indonesia hari ini tampaknya sedang melakukannya.
(mif)