Idul Fitri bukan sekadar milik para pria di barisan depan shalat. Syariat memerintahkan kehadiran seluruh kaum wanita dan anak-anak, termasuk mereka yang sedang berhalangan, demi merengkuh berkah doa.
Syaikh Yusuf Qardhawi membedah hukum wanita memandang lelaki. Meski boleh melihat wajah dan tubuh non-aurat, hukum berubah haram jika dibarengi syahwat demi menghindari fitnah dan panah iblis.
Narasi wanita sebagai makhluk kurang akal sering bersandar pada tafsir kata sufaha. Yusuf Qardhawi meluruskan bahwa istilah tersebut merujuk pada perilaku pemboros, bukan gender atau kodrat tertentu.
Syaikh Yusuf Qardhawi membongkar dogma suara wanita sebagai aurat. Melalui bukti Al-Quran dan sejarah, ia menegaskan hak bicara perempuan di ruang publik selama tetap dalam koridor kesantunan.
Di ruang-ruang kelas, komunitas digital, hingga forum tafsir, perempuan Indonesia menghidupkan kembali kisah-kisah perempuan Qurani sambil menegosiasikan identitas modern yang bergerak di antara tradisi, teknologi, dan kesetaraan.
Seorang perempuan berkulit hitam pengidap epilepsi memilih sabar daripada kesembuhan. Riwayat hidupnya menyingkap makna sabar sebagai jalan menuju kemuliaan spiritual.
Riwayat Muslim tentang Ashabul Ukhdud menyingkap pengorbanan seorang pemuda yang memilih iman ketimbang tunduk pada tirani. Dari kematiannya, lahir gelombang keyakinan yang tak terbendung.
Madinah abad ke-7. Nabi dan sahabat tak tabu menyebut rupa perempuan: cantik, gemuk, tinggi besar, atau berkulit hitam. Hadis-hadis ini menyingkap keterbukaan teks, bukan pelecehan, melainkan penghormatan.
Di masa Nabi, nama perempuan disebut tanpa tabu: Shafiyyah, Aisyah, Zainab, hingga Rubayyi. Kini, menyebut nama perempuan sering dianggap aib. Jejak lupa itu membeku dalam budaya, bukan agama.
Islam sejak awal menegaskan hak perempuan atas pendidikan. Dari hadis Aisyah hingga kaidah ushul fiqih, ihsan terbesar bagi anak perempuan adalah ilmu yang menyelamatkan generasi.
Pemandangan itu bukan anomali. Justru begitulah wajah keterlibatan sosial muslimah pada masa Rasulullah. Mereka hadir di ruang-ruang publik, ikut menentukan arah kehidupan masyarakat, dengan tetap menjaga tuntunan agama.
Pertanyaan itu membekas hingga hari ini, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.