home global news

Indonesia Butuh Pengusaha Smart Berhati Nurani agar Bencana dan Kesenjangan Tidak Terulang

Jum'at, 12 Desember 2025 - 10:27 WIB
Indonesia Butuh Pengusaha Smart Berhati Nurani agar Bencana dan Kesenjangan Tidak Terulang
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID-Negeri ini membutuhkan hadirnya para pengusaha yang bukan hanya cerdas secara rasional, tetapi juga memiliki kelapangan hati dan kepekaan nurani. Pengusaha yang smart adalah mereka yang mampu menggunakan akalnya dengan baik sehingga mengetahui apa yang ingin dicapai. Sementara pengusaha yang berhati nurani adalah mereka yang menggunakan hatinya untuk membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang seharusnya ditinggalkan.

Kecerdasan rasional tentu membuat seorang pengusaha berusaha meraih keuntungan sebesar-besarnya. Namun ketika orientasi itu tidak diimbangi dengan nurani, yang muncul adalah praktik-praktik yang merugikan banyak pihak. Upah rendah, jaminan sosial yang diabaikan, keselamatan kerja yang tidak diperhatikan, serta dampak lingkungan yang tidak dipertimbangkan menjadi konsekuensi dari pola pikir yang hanya mengejar profit.

Dari cara berusaha seperti itu, lahirlah ketimpangan sosial yang tajam. Kesenjangan antara kaya dan miskin melebar, sementara solidaritas dan kepedulian sesama warga melemah. Kerusakan alam pun menjadi semakin nyata: polusi udara, air, dan tanah mengancam kesehatan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup banyak orang.

Jika pola ini terus berlangsung, yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga hubungan kemanusiaan di dalam masyarakat. Negeri ini jelas tidak membutuhkan pengusaha yang hanya mengandalkan kecerdasan rasional tanpa hati nurani. Yang kita perlukan adalah pengusaha yang mampu memadukan keduanya demi kebaikan bersama: menjaga alam, menghargai pekerja, serta membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Kesedihan muncul ketika bencana banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pada saat masyarakat sibuk menyelamatkan diri dan menolong sesama, kehadiran pengusaha yang turut meringankan beban para korban justru tidak terlihat kuat. Di waktu yang sama, mobil-mobil besar tetap hilir-mudik membawa hasil hutan dan perkebunan—aktivitas yang dalam banyak kasus berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan yang memicu bencana.

Sebuah ironi terjadi di depan mata: rakyat menanggung akibat dari kerusakan alam, sementara sebagian dunia usaha terus berfokus pada keuntungan yang ingin dicapai. Pertanyaannya sederhana namun penting: apakah keadaan seperti ini akan terus kita biarkan?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya