home masjid

Sufi di Tengah Deru Politik: Saat Tasawuf Menjadi Benteng Terakhir Keimanan

Selasa, 06 Januari 2026 - 05:15 WIB
Ketegangan antara eksoterisisme (fiqh) dan esoterisme (tasawuf) ini menjadi dialektika panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Ilustrasi:AI

LANGT7.ID- Keberhasilan Nabi Muhammad dalam menyatukan Jazirah Arabia di bawah panji Madinah merupakan fenomena sejarah yang tak terbantahkan. Kesuksesan luar biasa ini segera diikuti oleh ekspansi politik dan militer yang meluas dari Nil hingga Oxus. Namun, di balik kegemilangan penaklukan tersebut, tumbuh sebuah dinamika keilmuan yang kemudian mendominasi wajah Islam hingga berabad-abad kemudian. Fokus utama para penguasa dan intelektual awal tertuju pada pengaturan masyarakat, yang melahirkan disiplin fiqh atau hukum agama.

Dalam naskahnya mengenai disiplin keilmuan Islam tradisional, Nurcholish Madjid menyoroti bagaimana fiqh menjadi identik dengan pemahaman agama itu sendiri. Syariah, yang secara etimologis berarti jalan, menjadi sangat eksoteris karena tuntutan stabilitas di tengah luasnya daerah kekuasaan yang heterogen. Menurut Cak Nur, kesalehan saat itu sering kali hanya diukur melalui ketaatan lahiriah terhadap ketentuan hukum. Kondisi ini diperparah oleh berbagai fitnah dan kekacauan politik yang dimulai sejak pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan.

Namun, orientasi yang terlalu berat pada aspek lahiriah ini menyisakan kekosongan pada aspek esoteris atau batiniah manusia. Di sinilah letak titik balik sejarah yang menarik. Ketika rezim Bani Umayyah di Damaskus mulai menjalankan praktik pemerintahan yang dianggap regimenter dan sekuler oleh sebagian kalangan, muncul sebuah gerakan oposisi yang unik. Oposisi ini bukan sekadar perebutan kuasa politik antara faksi Irak dan Suriah, melainkan oposisi religius atau pious opposition.

Tokoh sentral dalam gerakan ini adalah Hasan al-Bashri. Ia menjadi inspirasi bagi banyak kelompok, mulai dari kaum Mu'tazilah hingga para zahid atau orang-orang yang memilih hidup asketik. Kelompok terakhir inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum sufi, merujuk pada pakaian wol kasar (shuf) yang mereka kenakan sebagai simbol penolakan terhadap kemewahan para penguasa Damaskus.

Menurut Marshall G.S. Hodgson dalam The Venture of Islam, gerakan kesalehan ini muncul sebagai respons terhadap krisis moral yang melanda elit penguasa. Tasawuf pada awalnya adalah sebuah gerakan oposisi moral. Para sufi mencoba mengingatkan kembali bahwa esensi agama bukan sekadar kepatuhan pada teks hukum yang sering kali dipolitisasi, melainkan kedekatan personal dengan Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, tasawuf bertransformasi dari sekadar gerakan protes politik menjadi sistem mistisisme yang matang. Dalam fase ini, perhatian terhadap masalah historis dan politis umat mulai berkurang, digantikan oleh pematangan rasa kesalehan pribadi yang mendalam. Louis Massignon dalam kajiannya tentang Al-Hallaj juga menegaskan bahwa tasawuf adalah upaya untuk menemukan kembali roh Al-Quran yang sering kali tertutup oleh formalitas hukum.

Menariknya, penggunaan istilah-istilah seperti thariqah atau minhaj dalam tasawuf sebenarnya memiliki akar yang sama dengan kata syariah dalam Al-Quran. Namun, jika syariah kemudian lebih banyak dipahami sebagai hukum positif, kaum sufi mengambil jalan thariqah sebagai metode batiniah untuk mencapai hakikat.

Ketegangan antara eksoterisisme (fiqh) dan esoterisme (tasawuf) ini menjadi dialektika panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Cak Nur berpendapat bahwa meskipun kepastian hukum sangat berharga untuk mencegah kekacauan (fawdla), namun pengabaian terhadap aspek batiniah akan menjauhkan manusia dari esensi kemanusiaannya.

Pada akhirnya, tasawuf muncul sebagai penyeimbang. Ia menjadi ruang bagi mereka yang jenuh dengan perebutan kekuasaan yang mengatasnamakan agama. Di bawah jubah wol yang kasar, tersimpan pesan kuat bahwa kejayaan politik sebuah peradaban tidak akan ada artinya tanpa kedalaman spiritual. Sejarah tasawuf mengajarkan bahwa ketika ruang publik dipenuhi oleh kebisingan politik, maka kesunyian batin adalah tempat di mana iman menemukan kembali rumahnya.

(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya