home wirausaha syariah

Aset Asuransi Syariah Tembus Rp49 Triliun Saat Ekonomi Global Masih Penuh Tantangan

Kamis, 08 Januari 2026 - 14:32 WIB
Aset Asuransi Syariah Tembus Rp49 Triliun Saat Ekonomi Global Masih Penuh Tantangan

LANGIT7.ID-Jakarta; Pertumbuhan positif terus dibukukan oleh industri asuransi syariah nasional di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), total aset industri ini naik 5,62 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp49,05 triliun pada September 2025, dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp46,44 triliun.

Kenaikan aset tersebut dipandang sebagai sinyal kuat mengenai kepercayaan masyarakat terhadap layanan syariah. Pihak AASI dalam informasi di situs resminya pada Kamis (8/1/2026), menyebutkan bahwa tren ini menunjukkan posisi industri yang konsisten di jalur pertumbuhan berkelanjutan.

Sektor asuransi jiwa syariah menjadi penopang utama dengan porsi aset mencapai 73,7 persen dari total industri. Sektor ini tumbuh 6,16 persen yoy, di mana nilai asetnya meningkat dari Rp34,04 triliun pada September 2024 menjadi Rp36,13 triliun pada September 2025. Angka ini memantapkan peran asuransi jiwa syariah sebagai pilar utama stabilitas keuangan berbasis syariah di tanah air.

Di sisi lain, asuransi umum syariah menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi di angka 7,08 persen yoy. Aset pada kategori ini tercatat naik menjadi Rp9,98 triliun dari periode sebelumnya yang hanya Rp9,32 triliun. Menurut penilaian AASI, lompatan aset yang cukup signifikan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan publik terhadap proteksi asuransi umum syariah.

Berbeda dengan tren sektor lainnya, industri reasuransi syariah justru mengalami kontraksi sebesar 4,67 persen yoy. Nilai aset reasuransi syariah menyusut dari Rp3,07 triliun per September 2024 menjadi Rp2,93 triliun per September 2025. Dalam analisis AASI, penyusutan tersebut menandakan bahwa sektor reasuransi tengah menjalankan konsolidasi aset guna mengoptimalkan efisiensi serta pengelolaan risiko secara lebih teliti.

(lam)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya