home masjid

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Suci Penuh Hikmah (bagian 1)

Jum'at, 16 Januari 2026 - 17:52 WIB
Isra Miraj: Perjalanan Suci Penuh Hikmah (bagian 1)
Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki

LANGIT7.ID-Sebagaimana berbagai peristiwa sejarah lainnya dalam Islam, Isra Mi’raj Rasulullah SAW sesungguhnya tidak bisa dipastikan kapan persis terjadinya. Namun demikian, tanggal 27 Rajab banyak diyakini sebagai malam terjadinya teristiwa sejarah penting itu. Malam di saat Allah memberikan hadiah terbaik bagi hambaNya (‘abdahu) dan Rasul terakhir (khatamun nabiyyin), Muhammad SAW, yang diutus sebagai rahmah untuk alam semesta (rahmatan lil alamin).

Isra dan Mi’raj adalah dua kata yang mendiskripsi perjalanan itu. “Isra’” dimaknai sebagai perjalanan di malam hari. Sementara “Mi’raj” dimaknai sebagai perjalanan menuju ke atas (perjalanan vertikal). Dengan demikian Isra dan Mi’raj adalah peristiwa ketika Rasulullah diperjalankan oleh Rabbnya dari Masjidil Haram di Mekah ke masjidl Aqsa di Jerusalem di sebuah malam, lalu dari Jerusalem diperjalankan ke atas (vertikal) menuju Sidratul Muntaha (akhir dari segala akhir dari alam semesta).

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa imani (keimanan). Peristiwa yang melibatkan secara langsung, sekaligus menjadi ujian keimanan bagi umat. Karenanya di saat Allah menceritakan peristiwa ini di Surah An-Najam, Allah menekankan bahwa apa yang disampaikan oleh Muhammad (SAW) bukan dari dirinya sendiri (karangan atau dongeng). “Melainkan wahyu dari Allah SWT” (An-Najm: 3-4). Hal ini kemudian diperkuat dengan ekspresi kemaha sempurnaan Allah dalam kuasa memperjalankan hambaNya (subhana alladzi asraa bi abdihi). Maka mempertanyakan peristiwa Isra dan Mi’raj adalah bentuk mempertanyakan kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang sebuah peristiwa yang penuh kemukjizatan. Karena peristiwa ini memang dimaksudkan untuk memberikan kekuatan dan kemenangan “morale” kepada Rasulullah di tengah tantangan berat yang dihadapinya. Pemboikotan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah) yang juga berujung pada wafatnya isteri (Khadijah RA) dan paman tercinta (Abu Thalib). Dengan wafatnya isteri dan Paman beliau, Rasulullah semakin tertekan dan tersudutkan dalam pergerakan dakwahnya. Bahkan ikhtiar untuk mendakwahkan agama ini ke Thaif juga berakhir dengan tantangan yang luar biasa.

Semua itu menjadikan situasi semakin berat dan menyedihkan bagi beliau. Maka tahun itu beliau sebut sebagai Tahun Kesedihan (‘aamul huzni). Kesedihan karena wafatnya dua pendukung utama beliau; Khadijah RA dari kalangan mereka yang beriman (dukungan internal) dan Abu Talib dari kalangan mereka yang kafir (dukungan external). Meninggalnya isteri dan paman tercinta beliau menjadikan musuh-musuh semakin leluasa untuk melakukan segala hal yang hampir saja menghabisi Rasulullah, baik dalam kaitan misi perjuangannya maupun hidupnya.

Kebangkitan Islam secara individual
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya