Makna Isra Mikraj bagi Abdul Mu'ti Sebagai Penguat Spiritual Saat Menghadapi Kesulitan
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum vital dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW untuk memperoleh kekuatan spiritual di tengah masa sulit. Hal tersebut disampaikan Mu’ti pada Senin (19/1) di Masjid Baitut Tholibin, Jakarta Pusat.
Mu’ti menguraikan bahwa perjalanan agung tersebut berlangsung saat Rasulullah berada dalam kondisi psikologis yang sangat berat. Berdasarkan catatan sejarah, Isra Mikraj diperkirakan terjadi pada tahun ke-11 kenabian, tepat setelah fase yang dikenal sebagai 'Amul Huzn atau tahun kesedihan.
“Isra Mikraj dilaksanakan Rasulullah dalam situasi yang sangat gundah gulana,” kata Abdul Mu’ti dalam keterangan resmi, Selasa (20/1/2026).
Kesedihan tersebut dipicu oleh wafatnya paman Nabi, Abu Thalib, serta sang istri, Khadijah, pada tahun ke-10 kenabian. Padahal, keduanya adalah pilar utama yang mendukung dakwah beliau secara perlindungan fisik maupun material.
Mu’ti merinci bahwa Abu Thalib merupakan sosok yang berjasa besar dalam membela Nabi dari tekanan kaum kafir. Sementara itu, Khadijah disebutnya sebagai pendamping setia yang mendampingi dalam suka maupun duka.
“Khadijah adalah istri yang mendampingi Rasulullah dalam situasi suka dan duka serta mendukung dakwah beliau dengan segenap harta yang dimilikinya,” ungkapnya.
Menurut Abdul Mu’ti, kekuatan spiritual yang didapat dari Isra Mikraj menjadi bekal utama Rasulullah sebelum menghadapi tantangan besar berikutnya, yakni perintah berhijrah ke Yatsrib satu tahun kemudian. Walaupun ancaman terus mengintai, beliau tetap melangkah demi perjuangan.