home masjid

Dialektika Akal dan Wahyu dalam Kontroversi Makna Shirath

Ahad, 25 Januari 2026 - 04:15 WIB
Kaum Mutazilah menolak shirth hakiki karena dianggap tidak logis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam sejarah pemikiran Islam, pertarungan antara teks wahyu dan supremasi akal sering kali mencapai titik didih pada perkara-perkara ghaib. Salah satu medan tempur intelektual yang paling tajam adalah mengenai eksistensi shirâth, titian yang membentang di atas neraka menuju surga.

Di saat mayoritas umat Islam mengimani keberadaan jembatan ini sebagai sebuah keniscayaan fisik di akhirat, muncul faksi Mu’tazilah yang memilih jalur menyimpang: mereka menolak mengimani shirâth yang hakiki.

Alasan penolakan kaum Mu’tazilah sebenarnya berakar pada metodologi berpikir mereka yang mendewakan logika manusia. Bagi mereka, deskripsi shirâth yang disebutkan dalam riwayat-riwayat shahih dianggap tidak masuk akal.

Syubhat atau keraguan yang merasuki pikiran mereka bermuara pada satu pertanyaan skeptis: bagaimana mungkin manusia bisa berjalan di atas sesuatu yang lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang, amat licin, dan selalu bergerak-gerak?

Bagi kaum Mu’tazilah, gambaran tersebut adalah kemustahilan fisik yang tidak logis. Karena ketidakmampuan akal mereka dalam memvisualisasikan fenomena tersebut, mereka cenderung mengalihkan makna shirâth yang hakiki kepada makna majazi atau kiasan. Bagi mereka, shirâth hanyalah simbol dari jalan kebenaran di dunia atau sekadar metafora tentang sulitnya hisab, bukan sebuah infrastruktur nyata yang akan dipijak oleh kaki manusia kelak.

Namun, penyimpangan ini tidak dibiarkan tanpa jawaban oleh para penjaga tradisi intelektual Islam. Salah satu bantahan paling telak datang dari Imam al-Qurthubi rahimahullah. Beliau menegaskan bahwa pengingkaran tersebut tertolak secara total berdasarkan hadits-hadits shahih yang mutawatir. Dalam pandangan al-Qurthubi, beriman kepada shirâth secara tekstual dan hakiki adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Logika balasan yang diajukan al-Qurthubi cukup sederhana namun mematikan argumentasi kaum rasionalis ekstrem tersebut. Beliau memberikan analogi yang sangat membumi: jika Allâh Azza wa Jalla adalah Dzat yang mampu menahan burung untuk tetap terbang stabil di udara tanpa jatuh, maka tentu Dia jauh lebih sanggup untuk menahan seorang Mukmin di atas shirâth, baik dalam keadaan berlari maupun berjalan. Beliau menekankan bahwa kekuasaan Allâh tidak dibatasi oleh hukum fisika duniawi yang sempit.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya