Privasi Mutlak Sang Pencipta: Mengapa Waktu Kiamat Tetap Menjadi Misteri?
Miftah yusufpati
Rabu, 28 Januari 2026 - 05:45 WIB
Kiamat, dalam kacamata Asyraathus Saaah, adalah rahasia terbesar yang dikunci rapat dalam khazanah ketuhanan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam narasi besar agama-agama samawi, kiamat selalu menempati posisi sebagai bab penutup yang paling mencekam sekaligus memancing rasa penasaran. Namun, bagi Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, penulis kitab Asyraathus Saa’ah, pengetahuan tentang detak jam terakhir itu bukanlah komoditas yang bisa diakses oleh siapa pun.
Dalam edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, al-Wabil menegaskan sebuah garis demarkasi yang sangat tebal: pengetahuan tentang kapan kiamat terjadi adalah hak prerogatif tunggal Allah Ta’ala.
Interpretasi al-Wabil ini mengandalkan pondasi teks suci yang sangat rigid. Al-Quran secara eksplisit memosisikan hari kebangkitan sebagai perkara ghaib yang paling tertutup. Allah Azza wa Jalla tidak membukakan rahasia ini kepada malaikat yang paling dekat (muqarrabun), tidak pula kepada nabi yang paling mulia. Sebuah privasi ilahiah yang menegaskan bahwa seluruh makhluk, tanpa pengecualian, berdiri di atas ketidaktahuan yang sama mengenai kapan tirai dunia akan diturunkan.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sendiri berkali-kali dihadapkan pada pertanyaan yang sama oleh kaumnya. Sebuah dialektika antara rasa penasaran manusia dan otoritas langit yang terekam dalam surat Al-A’raaf ayat 187:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَ
Ayat ini adalah jawaban definitif yang memerintahkan Nabi untuk menyatakan bahwa pengetahuan itu hanya di sisi Tuhannya.
Penggunaan frasa laa yujalliiha liwaqtihaa illaa huwa menunjukkan sebuah eksklusivitas mutlak. Kiamat digambarkan sebagai beban berat bagi penduduk langit dan bumi yang akan datang secara baghtatan atau tiba-tiba. Ketidaktahuan manusia justru menjadi bagian dari desain peringatan Tuhan agar setiap jiwa selalu dalam kondisi siaga.
Dalam edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, al-Wabil menegaskan sebuah garis demarkasi yang sangat tebal: pengetahuan tentang kapan kiamat terjadi adalah hak prerogatif tunggal Allah Ta’ala.
Interpretasi al-Wabil ini mengandalkan pondasi teks suci yang sangat rigid. Al-Quran secara eksplisit memosisikan hari kebangkitan sebagai perkara ghaib yang paling tertutup. Allah Azza wa Jalla tidak membukakan rahasia ini kepada malaikat yang paling dekat (muqarrabun), tidak pula kepada nabi yang paling mulia. Sebuah privasi ilahiah yang menegaskan bahwa seluruh makhluk, tanpa pengecualian, berdiri di atas ketidaktahuan yang sama mengenai kapan tirai dunia akan diturunkan.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sendiri berkali-kali dihadapkan pada pertanyaan yang sama oleh kaumnya. Sebuah dialektika antara rasa penasaran manusia dan otoritas langit yang terekam dalam surat Al-A’raaf ayat 187:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَ
Ayat ini adalah jawaban definitif yang memerintahkan Nabi untuk menyatakan bahwa pengetahuan itu hanya di sisi Tuhannya.
Penggunaan frasa laa yujalliiha liwaqtihaa illaa huwa menunjukkan sebuah eksklusivitas mutlak. Kiamat digambarkan sebagai beban berat bagi penduduk langit dan bumi yang akan datang secara baghtatan atau tiba-tiba. Ketidaktahuan manusia justru menjadi bagian dari desain peringatan Tuhan agar setiap jiwa selalu dalam kondisi siaga.