LANGIT7.ID- Dalam narasi besar agama-agama samawi, kiamat selalu menempati posisi sebagai bab penutup yang paling mencekam sekaligus memancing rasa penasaran. Namun, bagi Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, penulis kitab
Asyraathus Saa’ah, pengetahuan tentang detak jam terakhir itu bukanlah komoditas yang bisa diakses oleh siapa pun.
Dalam edisi Indonesia
Hari Kiamat Sudah Dekat, al-Wabil menegaskan sebuah garis demarkasi yang sangat tebal: pengetahuan tentang kapan kiamat terjadi adalah hak prerogatif tunggal Allah Ta’ala.
Interpretasi al-Wabil ini mengandalkan pondasi teks suci yang sangat rigid. Al-Quran secara eksplisit memosisikan hari kebangkitan sebagai perkara ghaib yang paling tertutup. Allah Azza wa Jalla tidak membukakan rahasia ini kepada malaikat yang paling dekat (muqarrabun), tidak pula kepada nabi yang paling mulia. Sebuah privasi ilahiah yang menegaskan bahwa seluruh makhluk, tanpa pengecualian, berdiri di atas ketidaktahuan yang sama mengenai kapan tirai dunia akan diturunkan.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sendiri berkali-kali dihadapkan pada pertanyaan yang sama oleh kaumnya. Sebuah dialektika antara rasa penasaran manusia dan otoritas langit yang terekam dalam surat Al-A’raaf ayat 187:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَAyat ini adalah jawaban definitif yang memerintahkan Nabi untuk menyatakan bahwa pengetahuan itu hanya di sisi Tuhannya.
Penggunaan frasa laa yujalliiha liwaqtihaa illaa huwa menunjukkan sebuah eksklusivitas mutlak. Kiamat digambarkan sebagai beban berat bagi penduduk langit dan bumi yang akan datang secara baghtatan atau tiba-tiba. Ketidaktahuan manusia justru menjadi bagian dari desain peringatan Tuhan agar setiap jiwa selalu dalam kondisi siaga.
Menariknya, al-Wabil menyoroti sebuah paradoks dalam Hadits Jibril yang sangat masyhur. Ketika Jibril, entitas langit yang membawa wahyu, bertanya kepada Nabi tentang kiamat, sang Rasul menjawab dengan kalimat yang melegenda:
مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِMakna interpretatif dari jawaban ini sangat dalam; orang yang ditanya (Nabi) tidak lebih tahu daripada yang bertanya (Jibril). Di sini, kejujuran intelektual dan spiritual Nabi Muhammad dipamerkan secara terbuka. Beliau tidak berpura-pura tahu atau mencoba meramal angka tahun tertentu. Bagi al-Wabil, ini adalah bukti bahwa kiamat adalah batas akhir dari segala jenis nalar dan nubuat.
Bahkan Nabi Isa alaihissallam, sosok yang diprediksi akan turun di akhir zaman sebagai salah satu tanda besar kiamat, tetap berada dalam kegelapan yang sama mengenai momentum pastinya. Dalam kajian ilmiah teologi, hal ini disebut sebagai ketidakpastian yang terencana. Jika nabi sekelas Isa yang kehadirannya merupakan "alarm" kiamat saja tidak diberi tahu tanggal mainnya, maka klaim-klaim manusia modern mengenai ramalan tahun kiamat otomatis gugur dalam timbangan iman.
Pesan substansial dari kitab Yusuf al-Wabil ini sangat jelas: fokus manusia seharusnya bukan pada kapan kiamat tiba, melainkan pada apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapinya. Pengetahuan yang dikhususkan Allah untuk diri-Nya (sebagaimana dalam surat Al-Ahzaab ayat 63) berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Dengan merahasiakan waktu, Allah memberikan urgensi bagi manusia untuk terus memperbaiki diri di tengah kemungkinan bahwa hari berbangkit itu bisa jadi sudah sangat dekat.
Kiamat, dalam kacamata Asyraathus Saa’ah, adalah rahasia terbesar yang dikunci rapat dalam khazanah ketuhanan. Ia adalah peristiwa yang hanya dikembalikan kesudahannya kepada Allah semata (ilaa rabbika muntahaahaa). Sebuah akhir yang tidak mengenal negosiasi waktu, yang membuat seluruh sains dan prediksi manusia bertekuk lutut di hadapan keagungan rencana ilahi.
(mif)