ASBISINDO Sebut Perbankan Syariah 2026 Fokus Perkuat Fundamental dan Tata Kelola
LANGIT7.ID-Jakarta; Fokus pada penguatan fundamental bisnis menjadi tantangan utama perbankan syariah nasional saat memasuki tahun 2026. Meski industri saat ini berada dalam posisi stabil, aspek tata kelola dan inovasi produk kini dipandang lebih krusial dibandingkan sekadar isu keberlanjutan sektor.
Executive Director ASBISINDO, Herbudhi S. Tomo, menjelaskan bahwa perusahaan harus mulai memprioritaskan fondasi usaha yang kokoh melalui digitalisasi. Ia menilai teknologi merupakan instrumen penting untuk efisiensi, asalkan tetap berpijak pada nilai-nilai syariah yang moderat.
“Memasuki 2026, tantangan perbankan syariah bukan pada keberlanjutan industri, melainkan pada bagaimana memperkuat fundamental melalui tata kelola yang solid, inovasi produk yang relevan, dan pemanfaatan teknologi digital secara tepat,” kata Herbudhi dalam keterangannya, dikutip Kamis (29/1/2026).
Herbudhi juga mengingatkan agar setiap pelaku industri konsisten mempertahankan model bisnis yang unik. Menurutnya, pembeda dengan bank konvensional ini merupakan kunci agar industri tetap lincah menghadapi dinamika ekonomi.
“Karakter dan keunikan model bisnis syariah harus tetap dijaga agar industri ini tetap adaptif terhadap perubahan regulasi dan kondisi ekonomi,” bebernya.
Optimisme terhadap industri ini didukung oleh performa aset yang telah menembus angka Rp979 triliun hingga Agustus 2025, atau tumbuh sebesar 8,15 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, sektor pembiayaan tercatat mencapai Rp671 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) berada di angka Rp757 triliun.
Peningkatan statistik tersebut turut mendongkrak pangsa pasar perbankan syariah hingga menyentuh 7,44 persen dari total aset perbankan di Indonesia. Komposisi market share ini digerakkan oleh bank umum syariah sebesar 67,6 persen, unit usaha syariah (UUS) 29,4 persen, dan BPR Syariah 2,56 persen.