home masjid

Parade Pendusta Akhir Zaman: Menggugat Klaim Para Nabi Palsu

Jum'at, 30 Januari 2026 - 05:45 WIB
Angka tiga puluh yang disebutkan Nabi adalah jumlah yang memiliki pengaruh signifikan atau klaim yang masif, bukan berarti membatasi jumlah pendusta-pendusta kecil lainnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam struktur teologi Islam, jabatan kenabian telah dinyatakan tertutup rapat sejak wafatnya Muhammad SAW. Namun, sejarah mencatat sebuah anomali yang terus berulang: munculnya individu-individu yang mengklaim menerima mandat langit.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menempatkan fenomena nabi palsu ini bukan sekadar sebagai gangguan sosiologis, melainkan sebagai tanda kecil kiamat yang bersifat sistemik.

Laporan yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini merujuk pada teks otoritatif dalam ash-shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan peringatan dini tentang kemunculan para petualang spiritual ini:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Artinya, tidak akan terjadi hari kiamat hingga dibangkitkan para dajjal pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.

Penggunaan istilah dajjalun kazzabun memberikan penegasan bahwa klaim kenabian pasca-Muhammad bukan sekadar kesalahan pemahaman, melainkan sebuah bentuk penyesatan besar yang memiliki karakter seperti Dajjal.

Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada catatan sejarah yang sangat dinamis. Daftar pendusta ini dimulai bahkan sebelum sang Nabi wafat, melalui sosok Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah dan al-Aswad al-Ansi di Yaman.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya