home masjid

Tanda-Tanda Kiamat: Simfoni Kelalaian dan Normalisasi Hiburan Akhir Zaman

Senin, 02 Februari 2026 - 05:45 WIB
Ketika dentum musik dan gaya hidup hedonis dianggap sebagai kewajaran. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah kebisingan industri hiburan modern, musik bukan lagi sekadar pelipur lara, melainkan telah menjadi denyut nadi kebudayaan global. Dari kafe-kafe urban hingga ruang privat di gawai pintar, alunan nada nyaris tak pernah berhenti. Namun, di balik harmoni melodi tersebut, literatur eskatologi Islam menyimpan sebuah catatan peringatan yang tajam. Fenomena al-ma’aazif atau alat-alat musik bukan dilihat sebagai masalah teknis musikalitas, melainkan sebagai simbol pergeseran orientasi hidup manusia yang kian menjauh dari nilai sakralitas.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra, fenomena ini diklasifikasikan sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mencerminkan upaya menghalalkan hal-hal yang sebelumnya dilarang. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini menyoroti bagaimana hiburan bisa menjadi candu yang meninabobokan kesadaran moral masyarakat.

Rujukan utama analisis ini bersumber dari Shahih al-Bukhari, di mana Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan nubuat yang sangat spesifik mengenai perilaku umatnya di masa depan:

لَيَكُونَنّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَام يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِير وَالْخَمْر وَالْمَعَازِف

Artinya: Kelak terjadi dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamer, dan alat-alat musik.

Penggunaan kata yastahilluuna (menghalalkan) dalam teks tersebut menjadi titik tekan yang krusial. Ini bukan sekadar tentang perbuatan maksiat yang dilakukan karena kekhilafan, melainkan sebuah perubahan paradigma di mana sesuatu yang dilarang dianggap sebagai hal yang legal, wajar, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup yang dibanggakan.

Hedonisme di Lereng Kehancuran
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya