Tanda-Tanda Kiamat: Orang Tua Bergaya Anak Muda
Miftah yusufpati
Selasa, 03 Februari 2026 - 16:03 WIB
Narasi eskatologis ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap budaya kecantikan hari ini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia hari ini seolah sedang merayakan pemujaan berlebihan terhadap kemudaan. Di bawah dikte industri kecantikan dan tekanan media sosial, proses penuaan dianggap sebagai musuh yang harus diperangi habis-habisan. Uban yang seharusnya menjadi tanda kebijakan justru dipandang sebagai aib estetik yang harus ditutupi.
Namun, di balik upaya menyangkal usia tersebut, literatur eskatologi Islam menyimpan catatan peringatan yang sangat spesifik. Fenomena orang tua yang memaksakan diri bergaya layaknya anak muda, terutama melalui perubahan fisik yang manipulatif, dipandang sebagai bentuk disorientasi jiwa di ujung zaman.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutkan, fenomena ini diulas bukan sekadar sebagai masalah pilihan gaya hidup atau perawatan diri.
Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana upaya manusia untuk mengakali tanda-tanda alamiah pada tubuhnya mencerminkan pengikisan rasa syukur dan kesiapan menghadapi hari esok yang abadi.
Landasan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan gambaran yang tajam mengenai perilaku sosiologis di masa depan:
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ، لاَ يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Artinya: Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya surga.
Namun, di balik upaya menyangkal usia tersebut, literatur eskatologi Islam menyimpan catatan peringatan yang sangat spesifik. Fenomena orang tua yang memaksakan diri bergaya layaknya anak muda, terutama melalui perubahan fisik yang manipulatif, dipandang sebagai bentuk disorientasi jiwa di ujung zaman.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutkan, fenomena ini diulas bukan sekadar sebagai masalah pilihan gaya hidup atau perawatan diri.
Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana upaya manusia untuk mengakali tanda-tanda alamiah pada tubuhnya mencerminkan pengikisan rasa syukur dan kesiapan menghadapi hari esok yang abadi.
Landasan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan gambaran yang tajam mengenai perilaku sosiologis di masa depan:
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ، لاَ يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Artinya: Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya surga.