Menakar Puasa dalam Timbangan Syariat: Melampaui Sekadar Menahan Lapar
Miftah yusufpati
Kamis, 05 Februari 2026 - 04:15 WIB
Penggunaan metafora benang putih dan benang hitam sebagai penanda fajar menunjukkan betapa alam menjadi jam dinding bagi setiap hamba yang menjalankan shaum. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Jika dalam lintasan bahasa ash-shaum dimaknai sebagai keheningan semesta, maka dalam bilik hukum Islam, ia menjelma menjadi seperangkat aturan yang presisi. Para ulama lintas zaman telah mencurahkan tinta mereka untuk merumuskan apa yang sebenarnya terjadi saat seseorang menyatakan diri sedang berpuasa. Perdebatan ini terekam dalam sejarah, mulai dari definisi yang ringkas hingga uraian yang terperinci mengenai faktor pembatal dan urusan hati.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, dalam karyanya Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, menawarkan sebuah sintesis yang merangkum berbagai madzhab. Beliau mendefinisikan puasa sebagai penahanan diri dengan niat dari berbagai hal tertentu, pada waktu tertentu, dari orang tertentu, dan dengan syarat-syarat tertentu. Definisi ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah peta jalan bagi keshahihan ibadah.
Pilar utama dalam rumusan tersebut adalah niat. Puasa bukan sekadar mogok makan yang terjadi secara kebetulan. Tanpa niat, tindakan menahan diri hanyalah aktivitas biologis tanpa nilai transendental.
Ibnul Mundzir bahkan telah menukil adanya ijma atau kesepakatan bulat para ulama mengenai kedudukan niat ini. Sebuah penegasan yang kemudian diperkuat oleh al-Bahuti dalam kitab Kasysful Qinaa’. Di sini, puasa dimulai dari keputusan di dalam batin sebelum ia mewujud dalam tindakan fisik.
Selanjutnya, batasan hal-hal tertentu mengacu pada garis demarkasi antara yang halal dan haram. Ia mencakup larangan makan, minum, dan hubungan badan. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, puasa juga menuntut penahanan diri dari hal yang tidak bermanfaat, kata-kata kotor, hingga perbuatan fasik. Puasa menjadi ruang untuk memurnikan lisan dan perbuatan dari polusi sosial.
Mengenai waktu tertentu, syariat telah mematok batas yang tegas. Dimulai dari terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari. Hal ini bersandar Surah Al-Baqarah ayat 187:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, dalam karyanya Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, menawarkan sebuah sintesis yang merangkum berbagai madzhab. Beliau mendefinisikan puasa sebagai penahanan diri dengan niat dari berbagai hal tertentu, pada waktu tertentu, dari orang tertentu, dan dengan syarat-syarat tertentu. Definisi ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah peta jalan bagi keshahihan ibadah.
Pilar utama dalam rumusan tersebut adalah niat. Puasa bukan sekadar mogok makan yang terjadi secara kebetulan. Tanpa niat, tindakan menahan diri hanyalah aktivitas biologis tanpa nilai transendental.
Ibnul Mundzir bahkan telah menukil adanya ijma atau kesepakatan bulat para ulama mengenai kedudukan niat ini. Sebuah penegasan yang kemudian diperkuat oleh al-Bahuti dalam kitab Kasysful Qinaa’. Di sini, puasa dimulai dari keputusan di dalam batin sebelum ia mewujud dalam tindakan fisik.
Selanjutnya, batasan hal-hal tertentu mengacu pada garis demarkasi antara yang halal dan haram. Ia mencakup larangan makan, minum, dan hubungan badan. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, puasa juga menuntut penahanan diri dari hal yang tidak bermanfaat, kata-kata kotor, hingga perbuatan fasik. Puasa menjadi ruang untuk memurnikan lisan dan perbuatan dari polusi sosial.
Mengenai waktu tertentu, syariat telah mematok batas yang tegas. Dimulai dari terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari. Hal ini bersandar Surah Al-Baqarah ayat 187:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ