Nadirsyah Hosen, Santri Kampung yang Jadi Profesor di Australia
Muhajirin
Selasa, 12 Oktober 2021 - 19:19 WIB
Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D mengajar hukum Islam di Monash University Australia (foto: langit7.id/istock)
Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D adalah profesor di Monash University Australia. Namun siapa sangka, pria yang akrab disapa Gus Nadir ini dulunya adalah seorang santri kampung di sebuah pondok pesantren di Cirebon.
Pria yang lahir pada 8 Desember 1973 itu tumbuh besar di lingkungan Nahdliyyin. Maka tak heran jika kini ia didapuk mengemban amanah sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Australia dan New Zealand.
Sejak pertengahan 2015, Gus Nadir mengajar di Monash University Faculty of Law hingga meraih posisi sebagai Associate Professor, setelah sebelumnya ia mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Wollongong selama 8 tahun (2007-2015).
Baca Juga:Ahmad Fuadi, Santri Mendunia yang Sebarkan Inspirasi Lewat Novel Best Seller
Gus Nadir merupakan putra bungsu Prof. KH Ibrahim Hosen, seorang ulama besar ahli fikih pendiri dan rektor pertama Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur’an. Sementara sang kakek, KH Hosen, merupakan seorang ulama dan saudagar berdarah bugis serta pendiri Mu’awanatul Khair Arabische School di Tanjung Karang, Lampung, pada awal abad ke-20.
Gus Nadir belajar tafsir, fiqih, dan ushul fiqih dari sang ayah. Dari jalur sang ayah pula ia memiliki sanad keilmuan melalui Pesantren Buntet Cirebon. Ia juga pernah belajar ushul fiqih kepada KH Makki Rafi’i Cirebon.
Selanjutnya, ia belajar Bahasa Arab dan ilmu hadits kepada almarhum Prof. Dr. KH Ali Musthofa Ya’qub. Ia merupakan salah satu santri beliau yang pertama di Pesantren Darus Sunnah.
Pria yang lahir pada 8 Desember 1973 itu tumbuh besar di lingkungan Nahdliyyin. Maka tak heran jika kini ia didapuk mengemban amanah sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Australia dan New Zealand.
Sejak pertengahan 2015, Gus Nadir mengajar di Monash University Faculty of Law hingga meraih posisi sebagai Associate Professor, setelah sebelumnya ia mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Wollongong selama 8 tahun (2007-2015).
Baca Juga:Ahmad Fuadi, Santri Mendunia yang Sebarkan Inspirasi Lewat Novel Best Seller
Gus Nadir merupakan putra bungsu Prof. KH Ibrahim Hosen, seorang ulama besar ahli fikih pendiri dan rektor pertama Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur’an. Sementara sang kakek, KH Hosen, merupakan seorang ulama dan saudagar berdarah bugis serta pendiri Mu’awanatul Khair Arabische School di Tanjung Karang, Lampung, pada awal abad ke-20.
Gus Nadir belajar tafsir, fiqih, dan ushul fiqih dari sang ayah. Dari jalur sang ayah pula ia memiliki sanad keilmuan melalui Pesantren Buntet Cirebon. Ia juga pernah belajar ushul fiqih kepada KH Makki Rafi’i Cirebon.
Selanjutnya, ia belajar Bahasa Arab dan ilmu hadits kepada almarhum Prof. Dr. KH Ali Musthofa Ya’qub. Ia merupakan salah satu santri beliau yang pertama di Pesantren Darus Sunnah.