Menakar Keutamaan Lailatul Qadar: Malam Penentu Takdir dan Pengampunan Dosa di Bulan Ramadhan
Miftah yusufpati
Jum'at, 20 Februari 2026 - 15:46 WIB
Menemukan malam ini berarti menemukan jati diri kembali di tengah dunia yang makin materialistis. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi dunia Islam, kalender Hijriah bukan sekadar urutan angka, melainkan rangkaian fase spiritual yang puncaknya terkunci rapat di sepertiga akhir bulan Ramadhan. Di sana, terdapat sebuah fenomena waktu yang tidak dapat dinalar secara matematis biasa: Lailatul Qadar. Malam ini bukan sekadar pergantian gelap menuju terang, melainkan sebuah wadah metafisika tempat langit dan bumi bersinggungan secara intens melalui turunnya para malaikat.
Kedudukan malam ini begitu sentral hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus menurunkan Surah Al-Qadr untuk menjelaskan derajat kemuliaannya. Dalam ayat pertama hingga kelima, ditegaskan bahwa malam ini adalah waktu diturunkannya Al-Quran dan memiliki kualitas yang lebih baik dari seribu bulan.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Interpretasi atas frasa "lebih baik dari seribu bulan" sering kali menjadi bahan diskusi mendalam di kalangan ulama dunia. Dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa beramal saleh pada satu malam tersebut nilainya melampaui amalan yang dilakukan selama delapan puluh tiga tahun empat bulan di waktu lain. Ini adalah bentuk kompensasi ilahiah bagi umat Muhammad yang secara statistik usia lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.
Selain Surah Al-Qadr, Allah juga menyebut malam ini sebagai malam yang diberkahi (lailatin mubarakah) dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Kedudukan malam ini begitu sentral hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus menurunkan Surah Al-Qadr untuk menjelaskan derajat kemuliaannya. Dalam ayat pertama hingga kelima, ditegaskan bahwa malam ini adalah waktu diturunkannya Al-Quran dan memiliki kualitas yang lebih baik dari seribu bulan.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Interpretasi atas frasa "lebih baik dari seribu bulan" sering kali menjadi bahan diskusi mendalam di kalangan ulama dunia. Dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa beramal saleh pada satu malam tersebut nilainya melampaui amalan yang dilakukan selama delapan puluh tiga tahun empat bulan di waktu lain. Ini adalah bentuk kompensasi ilahiah bagi umat Muhammad yang secara statistik usia lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.
Selain Surah Al-Qadr, Allah juga menyebut malam ini sebagai malam yang diberkahi (lailatin mubarakah) dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ