home global news

Tunjangan Rp30 Juta untuk Dokter Spesialis Dinilai Masih Bermasalah, Picu Ketimpangan Baru di Pelosok Negeri

Ahad, 22 Februari 2026 - 20:21 WIB
Tunjangan Rp30 Juta untuk Dokter Spesialis Dinilai Masih Bermasalah, Picu Ketimpangan Baru di Pelosok Negeri
LANGIT7.ID-Jakarta; Kebijakan pemerintah memberikan insentif sebesar Rp30 juta per bulan bagi dokter spesialis yang bersedia bertugas di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) menuai sorotan. Meski disetujui langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan direncanakan berjalan mulai Januari 2026, para pengamat kebijakan kesehatan menilai program ini hanya solusi instan yang tidak menyentuh akar permasalahan.

Insentif finansial semata dinilai tidak akan mampu menarik, apalagi mempertahankan tenaga ahli di pelosok, tanpa dibarengi persiapan infrastruktur dan sistem yang matang. Bahkan, kebijakan ini berpotensi menciptakan ketimpangan baru dengan tenaga kesehatan lain di lini terdepan pelayanan publik.

Infrastruktur Timpang, Dokter Spesialis Tak Bisa Bekerja Optimal

Riset sistematis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 menegaskan bahwa insentif tunai tidak cukup efektif untuk program pemerataan tenaga kesehatan. Faktor penentu utamanya adalah kesiapan infrastruktur, dukungan komunitas, serta sumber pendanaan negara yang stabil.

Di Indonesia, kelengkapan fasilitas medis masih menjadi masalah kronis. Dokter spesialis dan subspesialis, yang membutuhkan peralatan canggih dan tim pendukung komprehensif, akan lumpuh jika ditempatkan di rumah sakit dengan peralatan minim.

"Menempatkan dokter spesialis kanker di daerah terpencil tidak akan ada gunanya jika alat diagnosis seperti biopsi dan obat kemoterapi tidak tersedia. Mereka juga tidak bisa bekerja sendiri karena butuh tim yang solid," ujar seorang pengamat kebijakan kesehatan kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Pengobatan modern memerlukan kolaborasi multidisiplin, mulai dari dokter subspesialis, anestesi, radiologi, hingga perawat khusus dan ahli gizi. Tanpa ekosistem yang mendukung, kehadiran seorang spesialis ibarat "kendaraan balap di jalan berlubang".
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya