Rasulullah Tegaskan Inti Doa Adalah Permohonan Surga dan Perlindungan Neraka
Miftah yusufpati
Senin, 02 Maret 2026 - 03:00 WIB
Ibadah doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan manifestasi ketundukan hamba. Ilustrasi: Ist
LANGI7.ID-Bagi seorang mukmin, doa adalah napas dalam kehidupan spiritual. Ia bukan sekadar permohonan yang dipanjatkan saat terhimpit kesulitan, melainkan sebuah entitas ibadah yang menghubungkan keterbatasan manusia dengan kemahakuasaan Tuhan.
Dalam diskursus fikih dan tazkiyatun nufus, doa dipandang sebagai senjata sekaligus tempat bersandar yang paling kokoh. Sebagaimana yang diuraikan dalam Tadzkirul Anam Bidurus ash-Shiyam karya Syaikh Sad bin Said al-Hajuri, doa adalah sebab utama turunnya ampunan yang telah disyariatkan secara gamblang oleh Allah Azza wa Jalla.
Kepastian mengenai diterimanya sebuah doa telah digaransi oleh Sang Pencipta dalam surat Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Namun, dalam realitas kehidupan beragama, sering kali muncul pertanyaan mengapa sebuah permohonan seolah tertunda atau tak kunjung menampakkan wujudnya. Di sinilah interpretasi atas syarat dan penghalang doa menjadi krusial.
Syaikh al-Hajuri menjelaskan bahwa doa adalah ibadah yang memerlukan kesempurnaan syarat dan kebersihan dari berbagai anasir penghalang. Pengabulan yang tertunda bukanlah bukti ketidakhadiran Tuhan, melainkan sering kali merupakan cermin dari belum terpenuhinya rukun-rukun batin dalam meminta.
Dalam diskursus fikih dan tazkiyatun nufus, doa dipandang sebagai senjata sekaligus tempat bersandar yang paling kokoh. Sebagaimana yang diuraikan dalam Tadzkirul Anam Bidurus ash-Shiyam karya Syaikh Sad bin Said al-Hajuri, doa adalah sebab utama turunnya ampunan yang telah disyariatkan secara gamblang oleh Allah Azza wa Jalla.
Kepastian mengenai diterimanya sebuah doa telah digaransi oleh Sang Pencipta dalam surat Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Namun, dalam realitas kehidupan beragama, sering kali muncul pertanyaan mengapa sebuah permohonan seolah tertunda atau tak kunjung menampakkan wujudnya. Di sinilah interpretasi atas syarat dan penghalang doa menjadi krusial.
Syaikh al-Hajuri menjelaskan bahwa doa adalah ibadah yang memerlukan kesempurnaan syarat dan kebersihan dari berbagai anasir penghalang. Pengabulan yang tertunda bukanlah bukti ketidakhadiran Tuhan, melainkan sering kali merupakan cermin dari belum terpenuhinya rukun-rukun batin dalam meminta.