Martabat di Atas Segalanya: Mengapa Iran Memilih Melawan Daripada Tunduk
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Bagi bangsa Iran, kedaulatan bukan sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan napas kehidupan. Prinsip "lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah" bukan sekadar slogan heroik, melainkan fondasi eksistensi mereka di tengah gempuran kepentingan global. Upaya Iran untuk menjadi bangsa yang mandiri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah lama menjadi duri dalam daging bagi Amerika Serikat (AS).
Ketakutan AS bukan tanpa alasan. Jika Iran bertransformasi menjadi kekuatan maju, maka dominasi atau hegemoni AS di kawasan Timur Tengah akan runtuh. Hal ini mengancam pengaruh Paman Sam terhadap negara-negara kaya minyak seperti Irak, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Tekanan Ekonomi dan Tuduhan Nuklir
Untuk menghambat kemajuan tersebut, AS menggunakan berbagai instrumen intervensi. Salah satu yang paling tajam adalah isu senjata nuklir yang dituduhkan kepada Iran. Isu ini berhasil memprovokasi negara-negara Barat untuk menjatuhkan sanksi ekonomi berat yang mencekik kehidupan rakyat Iran sehari-hari.
Namun, sejarah mencatat bahwa Iran tidak mudah terjebak dalam skenario yang dirancang Washington. Keteguhan ini memuncak pada tahun 2025, ketika AS secara terbuka menyerang fasilitas di Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan dalih penghancuran fasilitas nuklir sebagai bagian dari konflik regional.
Titik Didih: Gugurnya Pemimpin Tertinggi