home masjid

Teka-Teki Malam Ganjil: Mengapa Tanggal Pasti Lailatul Qadar Dirahasiakan?

Rabu, 04 Maret 2026 - 04:00 WIB
Strategi terbaik adalah memfokuskan pencarian pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir, yakni 21, 23, 25, 27, dan 29. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Bagi kaum Muslimin, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan bukan sekadar garis finis sebuah maraton lapar dan dahaga. Di sana terdapat sebuah perburuan spiritual yang paling intens dalam setahun: pencarian Lailatul Qadar. Namun, sebuah pertanyaan klasik selalu muncul setiap tahunnya di serambi masjid hingga ruang diskusi digital: kapan sebenarnya malam itu tiba?

Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah tunggal, melainkan sebuah dialektika antara dalil yang umum dan khusus, serta sebuah hikmah besar di balik disembunyikannya tanggal pasti malam tersebut.

Berdasarkan literatur klasik dan ulasan dalam Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, waktu terjadinya Lailatul Qadar tersebar dalam rentang malam-malam ganjil.

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa malam tersebut bisa terjadi pada tanggal 21, 23, 25, 27, 29, hingga akhir malam bulan Ramadhan.

Ketidakpastian ini menurut Imam Syafi’i memiliki kaitan erat dengan konteks saat Nabi menjawab pertanyaan para sahabat. Nabi sering kali menjawab sesuai dengan kondisi atau pertanyaan spesifik yang diajukan pada saat itu, sehingga jawaban beliau tampak berpindah-pindah.

Namun, jika kita merujuk pada pendapat yang dianggap paling kuat oleh para ulama dunia, koordinat waktu Lailatul Qadar mengerucut pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Hal ini bersandar pada hadits dari Aisyah Radhiyallahu anha yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan iktikaf dan berpesan kepada umatnya:

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya