home masjid

Ibrahim Hooper Sebut Puasa Ramadhan Perdana Sebagai Instrumen Penguat Empati Sosial

Rabu, 04 Maret 2026 - 15:00 WIB
Ibrahim Hooper mengenang puasa pertamanya sebagai proses transformasi dari sekadar menahan lapar menjadi aksi advokasi. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Bagi publik Amerika Serikat, wajah Ibrahim Hooper sangat lekat dengan dunia advokasi hak sipil melalui Council on American Islamic Relations atau CAIR. Namun, jauh sebelum ia menjadi juru bicara utama bagi komunitas Muslim di Washington D.C., Hooper adalah seorang mualaf yang harus meraba makna di balik ritual lapar melalui pengalaman puasa Ramadhan perdana yang mengubah cara pandangnya terhadap keadilan sosial.

Perjalanan Hooper memeluk Islam terjadi pada akhir era 1980-an, sebuah masa di mana identitas Muslim di Amerika Serikat mulai mengalami dinamika politik yang kompleks. Saat tiba waktu bagi dirinya untuk menjalankan ibadah puasa pertama kali, Hooper tidak sekadar melihatnya sebagai ujian fisik untuk menahan dahaga di tengah rutinitas pekerjaan yang padat. Baginya, momen tersebut adalah sebuah proses belajar yang sangat praktis mengenai bagaimana rasanya menjadi kelompok yang terpinggirkan dan menderita.

Pengalaman puasa perdana bagi Hooper merupakan sebuah benturan kesadaran yang luar biasa. Ia mengisahkan bahwa saat pertama kali menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari, ia mulai memahami bahwa rasa lapar yang ia rasakan bersifat sukarela dan memiliki batas waktu yang pasti. Kesadaran ini kemudian membawanya pada pemikiran yang lebih luas mengenai jutaan orang di seluruh dunia yang merasakan lapar bukan karena ibadah, melainkan karena kemiskinan dan ketidakadilan yang sistemik.

Hooper menekankan bahwa dalam lapar terdapat sebuah alat advokasi yang sangat ampuh untuk mengasah empati sosial. Selama bulan suci pertamanya itu, ia merenungkan bagaimana puasa seharusnya melahirkan tindakan nyata untuk membantu sesama. Baginya, Ramadhan adalah momentum untuk mengambil peran lebih besar dalam membela hak-hak mereka yang suaranya tidak terdengar. Kedamaian yang ia rasakan saat berbuka puasa di masjid setempat menyadarkannya akan pentingnya solidaritas antarmanusia tanpa memandang latar belakang.

Melalui puasa pertamanya, Hooper menemukan bahwa integritas seorang Muslim sejati harus dibuktikan dengan kepedulian terhadap urusan manusia lainnya. Ia membuktikan bahwa puasa tidak pernah membuat seseorang menjadi pasif, melainkan justru menjadi motor penggerak untuk melakukan pembelaan terhadap keadilan. Ramadhan perdana tersebut menjadi pilar yang memperkuat dedikasinya selama puluhan tahun dalam melawan diskriminasi dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam di Amerika Serikat.
(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya