Jumhur Ulama: Lailatul Qadar Terjadi pada Malam Ganjil Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Miftah yusufpati
Kamis, 05 Maret 2026 - 17:00 WIB
Lailatul Qadar adalah hadiah bagi mereka yang tidak kenal lelah mengetuk pintu langit. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara lipatan hari-hari bulan suci, terdapat sebuah teka-teki spiritual yang telah menyita perhatian umat Islam selama lebih dari empat belas abad. Lailatul Qadar, sebuah malam yang nilainya dikukuhkan lebih baik dari seribu bulan, tetap menjadi misteri yang dirahasiakan tanggal pastinya. Namun, kerahasiaan ini bukanlah tanpa petunjuk. Para ulama telah melakukan kodifikasi terhadap berbagai dalil untuk menentukan koordinat waktu yang paling mendekati kehadiran malam yang diberkahi tersebut.
Dalam tinjauan mendalam Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Judai melalui karyanya At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, atau dalam edisi Indonesia bertajuk Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir, jumhur ulama telah mencapai mufakat bahwa Lailatul Qadar secara eksklusif hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Landasan teologisnya berpijak pada sinkronisasi dua ayat suci. Pertama, surat Al-Baqarah ayat 185 yang menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Kedua, surat Al-Qadr ayat 1 yang menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Pertemuan kedua teks ini mengunci keberadaan malam mulia tersebut di dalam kurun waktu tiga puluh hari bulan puasa.
Namun, pertanyaan yang lebih spesifik mengenai malam keberapakah Lailatul Qadar terjadi, melahirkan spektrum pendapat yang beragam. Dr. Nashir al-Judai menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat (ar-raajih) dan dipegang oleh mayoritas ulama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dengan penekanan khusus pada malam-malam ganjil. Hal ini didasarkan pada instruksi langsung dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memerintahkan para sahabat untuk memperkuat intensitas amal pada periode tersebut.
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, Sayyidah Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan pesan Nabi yang sangat populer:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sendiri memberikan keteladanan fisik yang nyata dengan melakukan iktikaf dan menghidupkan malam-malam terakhir tersebut dengan ibadah yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya. Bagi beliau, sepuluh hari terakhir adalah masa krusial di mana hubungan antara hamba dan Pencipta mencapai titik kulminasi.
Dalam tinjauan mendalam Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Judai melalui karyanya At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, atau dalam edisi Indonesia bertajuk Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir, jumhur ulama telah mencapai mufakat bahwa Lailatul Qadar secara eksklusif hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Landasan teologisnya berpijak pada sinkronisasi dua ayat suci. Pertama, surat Al-Baqarah ayat 185 yang menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Kedua, surat Al-Qadr ayat 1 yang menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Pertemuan kedua teks ini mengunci keberadaan malam mulia tersebut di dalam kurun waktu tiga puluh hari bulan puasa.
Namun, pertanyaan yang lebih spesifik mengenai malam keberapakah Lailatul Qadar terjadi, melahirkan spektrum pendapat yang beragam. Dr. Nashir al-Judai menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat (ar-raajih) dan dipegang oleh mayoritas ulama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dengan penekanan khusus pada malam-malam ganjil. Hal ini didasarkan pada instruksi langsung dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memerintahkan para sahabat untuk memperkuat intensitas amal pada periode tersebut.
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, Sayyidah Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan pesan Nabi yang sangat populer:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sendiri memberikan keteladanan fisik yang nyata dengan melakukan iktikaf dan menghidupkan malam-malam terakhir tersebut dengan ibadah yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya. Bagi beliau, sepuluh hari terakhir adalah masa krusial di mana hubungan antara hamba dan Pencipta mencapai titik kulminasi.