home masjid

Mantan DJ Amerika Serikat Suhaib Webb Temukan Irama Spiritual pada Ramadhan Perdana

Sabtu, 07 Maret 2026 - 03:33 WIB
Perjalanan mualaf William Webb bermula dari dunia malam hingga menjadi ulama terpandang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Bagi William Webb, yang kini dikenal dunia sebagai Imam Suhaib Webb, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Sebelum memeluk Islam, pria kelahiran Oklahoma, Amerika Serikat ini adalah seorang disk joki atau DJ yang akrab dengan gemerlap dunia hiburan malam dan budaya hip-hop. Namun, perjumpaannya dengan Islam pada tahun 1992 mengubah total ritme hidupnya. Pengalaman puasa perdana Webb menjadi narasi transformatif tentang bagaimana seorang pemuda Amerika mencari kedamaian di tengah kegaduhan identitas.

Pengalaman puasa pertama Suhaib Webb sering ia ceritakan dalam berbagai ceramah dan tulisan autobiografisnya, salah satunya dalam artikel bertajuk From DJ to Imam yang dipublikasikan oleh berbagai portal dakwah internasional serta wawancara dengan komunitas Muslim Amerika. Webb mengenang bahwa tantangan terbesar saat itu bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan bagaimana ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sebelumnya sangat jauh dari nilai-nilai spiritualitas.

Sebagai seorang mantan DJ, Webb sangat peka terhadap suara dan irama. Pada Ramadhan pertamanya, ia menemukan bahwa dentuman musik yang selama ini memenuhi kepalanya mulai digantikan oleh sesuatu yang lebih mendalam: kekhusyukan Tarawih. Ia menceritakan bagaimana ia berdiri berjam-jam di belakang imam, meskipun pada saat itu ia belum memahami setiap kata dalam bahasa Arab yang dilantunkan. Baginya, irama Al Quran memberikan getaran batin yang lebih kuat dan lebih menenangkan daripada musik mana pun yang pernah ia mainkan di panggung.

Webb menggambarkan puasa pertamanya sebagai proses detoksifikasi jiwa. Sebagai pemuda yang tumbuh dalam budaya konsumtif, menahan diri dari kebutuhan dasar manusia sepanjang hari memberikan perspektif baru tentang kontrol diri. Ia menyadari bahwa selama ini ia dikendalikan oleh keinginan-keinginan luar, namun puasa mengajarinya untuk menjadi tuan atas dirinya sendiri. Pengalaman lapar yang ia rasakan bukan membuatnya menderita, melainkan membuatnya lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitarnya.

Salah satu momen paling berkesan dalam puasa perdana tersebut adalah saat berbuka puasa atau iftar bersama komunitas Muslim setempat yang multikultural. Di sana, ia merasakan kehangatan persaudaraan yang melampaui batas ras dan latar belakang sosial. Ia melihat orang-orang dari berbagai belahan dunia berbagi kurma dan air, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan dunia kompetitif yang ia tinggalkan. Rasa kebersamaan ini memperkuat keyakinannya bahwa ia telah menemukan rumah spiritual yang tepat.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Suhaib Webb telah menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di Amerika Serikat yang fokus pada isu-isu pemuda dan identitas Muslim di Barat. Namun, ia selalu kembali pada kisah puasa pertamanya sebagai pengingat bahwa iman adalah sebuah perjalanan menemukan irama hidup yang selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Baginya, Tarawih pertama itu adalah konser spiritual yang paling berkesan seumur hidupnya.
(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya