home masjid

Strategi Ibadah Sepuluh Hari Terakhir: Jangan Menyerah pada Tujuh Malam Sisa

Senin, 09 Maret 2026 - 03:00 WIB
Ramadan di tujuh malam terakhirnya bukan lagi soal kuantitas malam yang sudah berlalu, melainkan tentang kualitas niat yang masih tersisa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi sebagian orang, sepuluh hari terakhir Ramadan sering kali menjadi perlombaan yang melelahkan. Ketika gairah beribadah di awal bulan mulai berbenturan dengan tuntutan fisik dan kesibukan duniawi yang memuncak menjelang Idulfitri, fase krusial ini kerap menjadi batu sandungan. Ada perasaan sesal yang mendalam ketika tiga malam pertama dari sepuluh malam terakhir terlewati tanpa kualitas ibadah yang mumpuni. Namun, dalam tradisi Islam, pintu harapan tidak pernah tertutup rapat sebelum bulan sabit Syawal tampak di cakrawala.

Argumentasi spiritual ini bersandar pada sebuah peringatan tegas sekaligus penuh kasih dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat yang disusun oleh Imam Muslim, Nabi memberikan strategi cadangan bagi mereka yang mulai goyah di garis finis. Beliau bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir. Jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya. (HR. Muslim).

Pesan ini, sebagaimana diulas dalam risalah Lailatul Qadar karya Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, merupakan pengingat akan sifat manusia yang fluktuatif. Kelelahan atau kelemahan (dhauf) dan ketidakmampuan (ajz) adalah bagian dari kondisi manusiawi. Akan tetapi, syariat memberikan sebuah kompensasi moral: jika awal dari sepuluh hari terakhir itu terlepas, maka tujuh hari yang tersisa adalah benteng pertahanan terakhir yang tidak boleh ditembus oleh rasa malas.

Dalam perspektif interpretatif, hadis ini menunjukkan bahwa keberhasilan meraih Lailatulqadar tidak selalu ditentukan oleh awal yang sempurna, melainkan oleh akhir yang konsisten. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu al Fatawa menyebutkan bahwa ukuran keberhasilan seorang hamba ada pada kesempurnaan akhirnya, bukan pada kekurangan di awalnya. Pandangan ini sejalan dengan kaidah bahwa amalan itu dinilai berdasarkan penutupnya. Oleh karena itu, tujuh malam tersisa—terutama malam-malam ganjil—menjadi ruang penebusan bagi mereka yang sempat tertinggal.

Menarik untuk meninjau bagaimana para ulama dunia membedah urgensi tujuh malam terakhir ini. Imam Ibnu Rajab al Hanbali dalam kitab Lathaiful Maarif menekankan bahwa sepuluh malam terakhir adalah puncak dari seluruh bulan Ramadan. Jika seseorang telah kehilangan sebagian dari puncaknya, maka sisa yang ada harus dijaga seperti menjaga nyawa sendiri. Beliau menggambarkan tujuh malam terakhir sebagai kesempatan emas yang sangat sempit; semakin sempit waktunya, seharusnya semakin besar pula kesungguhan yang dicurahkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya