home masjid

Tinjauan Fikih Hari Raya: Rahasia di Balik Bilangan Takbir dan Pilihan Surah Nabi

Ahad, 15 Maret 2026 - 16:05 WIB
Shalat Idul Fitri adalah orkestra penghambaan yang presisi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi hari satu Syawal, lapangan dan masjid berubah menjadi samudera manusia yang bersiap menunaikan ritual pamungkas Ramadhan. Namun, di balik keramaian tersebut, shalat Idul Fitri berdiri sebagai sebuah ibadah yang memiliki arsitektur unik, membedakannya dari shalat lima waktu maupun shalat Jumat. Perbedaan ini terletak pada dentum takbir yang berulang serta pilihan literasi wahyu yang dilantunkan sang imam. Memahami struktur ini bukan sekadar urusan teknis gerakan, melainkan upaya menyelami adab dan hukum yang diwariskan langsung melalui tradisi kenabian.

Dalam risalah bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, dijelaskan bahwa shalat Id dilaksanakan dalam dua rakaat. Namun, yang membuat getaran spiritualnya terasa berbeda adalah keberadaan takbir zawaid atau takbir tambahan. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram sebagai pembuka, imam dan makmum disunnahkan bertakbir kembali sebanyak tujuh kali. Sementara pada rakaat kedua, sebelum memulai bacaan Al Fatihah, takbir dikumandangkan sebanyak lima kali.

Interpretasi atas melimpahnya jumlah takbir ini membawa pesan teologis yang kuat. Takbir adalah proklamasi atas kebesaran Tuhan dan pengecilan ego manusia. Setelah sebulan penuh bertarung melawan hawa nafsu, tujuh dan lima kali takbir tersebut seolah menjadi penegasan berulang bahwa kemenangan yang diraih hanyalah berkat taufik dari Allah Azza wa Jalla. Ulama dunia seperti Imam asy Syafii dalam kitab Al Umm menekankan bahwa tambahan takbir ini adalah perhiasan shalat hari raya yang menandakan keistimewaan hari tersebut dibandingkan hari-hari lainnya.

Tak hanya soal jumlah takbir, pilihan surah yang dibaca imam pun memiliki tuntunan spesifik. DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse merujuk pada kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang terekam dalam Shahih Muslim. Melalui penuturan an Nu’man bin Basyir, disebutkan:

يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

Biasa membaca Sabbihisma Rabbikal Ala (Al Ala) dan Hal Ataka Haditsul Ghasyiyah (Al Ghasyiyah) dalam shalat dua hari raya dan shalat Jumat.

Pilihan surah Al Ala dan Al Ghasyiyah bukanlah tanpa alasan filosofis. Surah Al Ala mengajak manusia untuk mensucikan nama Tuhan yang Maha Tinggi, Zat yang menciptakan dan menyempurnakan segala sesuatu. Di dalamnya terdapat pengingat bahwa keberuntungan sejati hanya milik orang-orang yang mensucikan diri dan mengingat Tuhannya. Pesan ini sangat relevan dengan suasana Idul Fitri yang bertujuan mengembalikan manusia ke fitrah kesuciannya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya