LANGIT7.ID-Pagi hari satu Syawal, lapangan dan masjid berubah menjadi samudera manusia yang bersiap menunaikan ritual pamungkas Ramadhan. Namun, di balik keramaian tersebut, shalat Idul Fitri berdiri sebagai sebuah ibadah yang memiliki arsitektur unik, membedakannya dari shalat lima waktu maupun shalat Jumat. Perbedaan ini terletak pada dentum takbir yang berulang serta pilihan literasi wahyu yang dilantunkan sang imam. Memahami struktur ini bukan sekadar urusan teknis gerakan, melainkan upaya menyelami adab dan hukum yang diwariskan langsung melalui tradisi kenabian.
Dalam risalah bertajuk
Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, dijelaskan bahwa shalat Id dilaksanakan dalam dua rakaat. Namun, yang membuat getaran spiritualnya terasa berbeda adalah keberadaan takbir zawaid atau takbir tambahan. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram sebagai pembuka, imam dan makmum disunnahkan bertakbir kembali sebanyak tujuh kali. Sementara pada rakaat kedua, sebelum memulai bacaan Al Fatihah, takbir dikumandangkan sebanyak lima kali.
Interpretasi atas melimpahnya jumlah takbir ini membawa pesan teologis yang kuat. Takbir adalah proklamasi atas kebesaran Tuhan dan pengecilan ego manusia. Setelah sebulan penuh bertarung melawan hawa nafsu, tujuh dan lima kali takbir tersebut seolah menjadi penegasan berulang bahwa kemenangan yang diraih hanyalah berkat taufik dari Allah Azza wa Jalla. Ulama dunia seperti Imam asy Syafii dalam kitab Al Umm menekankan bahwa tambahan takbir ini adalah perhiasan shalat hari raya yang menandakan keistimewaan hari tersebut dibandingkan hari-hari lainnya.
Tak hanya soal jumlah takbir, pilihan surah yang dibaca imam pun memiliki tuntunan spesifik. DR. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse merujuk pada kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang terekam dalam Shahih Muslim. Melalui penuturan an Nu’man bin Basyir, disebutkan:
يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِBiasa membaca Sabbihisma Rabbikal Ala (Al Ala) dan Hal Ataka Haditsul Ghasyiyah (Al Ghasyiyah) dalam shalat dua hari raya dan shalat Jumat.Pilihan surah Al Ala dan Al Ghasyiyah bukanlah tanpa alasan filosofis. Surah Al Ala mengajak manusia untuk mensucikan nama Tuhan yang Maha Tinggi, Zat yang menciptakan dan menyempurnakan segala sesuatu. Di dalamnya terdapat pengingat bahwa keberuntungan sejati hanya milik orang-orang yang mensucikan diri dan mengingat Tuhannya. Pesan ini sangat relevan dengan suasana Idul Fitri yang bertujuan mengembalikan manusia ke fitrah kesuciannya.
Sementara itu, surah Al Ghasyiyah membawa jamaah pada kontemplasi tentang hari pembalasan yang dahsyat. Di hari kemenangan dunia, umat Islam diingatkan tentang hari pembalasan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Kontras antara kabar gembira bagi penghuni surga dan peringatan bagi yang berpaling menjadi penyeimbang agar kegembiraan Idul Fitri tidak terjatuh pada euforia yang melampaui batas.
Selain dua surah tersebut, dalam riwayat lain yang dikaji oleh para ulama seperti Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam
Zaadul Maad, Nabi juga terkadang membaca surah Qaf dan surah Al Qamar. Keduanya sama-sama mengandung tema besar tentang penciptaan, kebangkitan, dan peringatan bagi kaum-kaum terdahulu. Struktur bacaan ini menunjukkan bahwa shalat Id dirancang sebagai madrasah singkat bagi umat untuk mengingat hakikat eksistensi mereka sebagai hamba di tengah perayaan.
Implementasi hukum dan adab ini menuntut ketelitian dari seorang imam dan kesadaran dari jamaah. Ketepatan dalam jumlah takbir dan pemilihan surah adalah bentuk ketaatan mutlak terhadap sunnah. Sebagaimana dijelaskan oleh DR. Ashim, meskipun shalat Id sah dilakukan dengan surah apa pun, mengikuti pilihan surah yang dilakukan Nabi merupakan bentuk kesempurnaan dalam beribadah.
Sebagai simpulan, shalat Idul Fitri adalah orkestra penghambaan yang presisi. Melalui tujuh dan lima kali takbir serta lantunan surah Al Ala dan Al Ghasyiyah, seorang Muslim diajak untuk merayakan kemenangan dengan tetap rendah hati di hadapan kebesaran Allah. Idul Fitri dengan demikian menjadi momen di mana ritual fisik menyatu dengan kedalaman makna wahyu, memastikan bahwa setiap sujud di lapangan atau masjid membawa transformasi spiritual yang nyata bagi setiap pelakunya.
(mif)