home masjid

Takwa sebagai Gincu Hakiki: Membedah Makna Kebahagiaan di Hari Raya

Rabu, 18 Maret 2026 - 03:00 WIB
Hari raya bukanlah garis finis bagi kesalehan, melainkan awal dari hidup baru yang lebih bertakwa. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID- Gema takbir yang memecah kesunyian fajar satu Syawal sering kali diartikan sebagai gong pembuka bagi pesta pora lahiriah. Di jalan-jalan, orang-orang mematut diri dengan kain sutra terbaru, sementara meja-meja makan penuh sesak dengan hidangan yang menggugah selera. Namun, di balik kemilau perayaan tersebut, sebuah pertanyaan fundamental muncul: siapa sebenarnya orang yang paling berbahagia di hari raya ini? Apakah mereka yang berhasil membeli pakaian termahal, ataukah mereka yang jiwanya berhasil merengkuh ampunan dari Sang Pencipta?

Dalam kitab Al-Khuthab Al-Minbariyah, Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah al-Fauzan memberikan perspektif yang tajam mengenai filosofi kebahagiaan ini. Menurut beliau, kebahagiaan kaum Muslimin pada hari raya bersumber dari sebuah anugerah agung, yakni penyempurnaan puasa Ramadhan dan pelaksanaan qiyamul lail. Bahagia karena Allah telah menjadikan hambanya mampu menggunakan karunia-Nya untuk ketaatan. Inilah yang membedakan hari raya Islam dengan perayaan kaum jahiliyah masa silam.

Sejarah mencatat, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati penduduk setempat memiliki dua hari raya yang digunakan untuk bermain-main. Rasulullah kemudian menegaskan bahwa Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik: Idulfitri dan Iduladha. Pergantian ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan pergeseran orientasi; dari sekadar bersenda gurau menjadi hari untuk berdzikir, bersyukur, serta meraih ampunan dan maaf.

Dr. Shalih Fauzan menggarisbawahi bahwa hari ini adalah hari perjamuan Allah. Berpuasa pada hari raya justru diharamkan karena dianggap berpaling dari jamuan-Nya. Syiar yang paling agung adalah pelaksanaan shalat Ied di lapangan terbuka sebagai simbol persatuan umat. Sebagian ulama menafsirkan firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.

Istilah tazakka di sini dimaknai sebagai pengeluaran zakat fitrah, sedangkan shalla adalah pengerjaan shalat Ied. Inilah paket lengkap pembersihan diri: sosial dan spiritual. Namun, kebahagiaan ini bisa menjadi semu jika kita terjebak pada gemerlap duniawi. Dr. Shalih Fauzan mengingatkan dengan tegas bahwa orang yang berbahagia bukanlah orang yang sekadar memperindah lahiriahnya dengan pakaian baru atau memuaskan nafsu makan dan bicaranya. Orang itu dikatakan bahagia apabila Allah menerima puasa serta shalatnya, dan menghapus semua dosa-dosanya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya