Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Takwa sebagai Gincu Hakiki: Membedah Makna Kebahagiaan di Hari Raya

miftah yusufpati Rabu, 18 Maret 2026 - 03:00 WIB
Takwa sebagai Gincu Hakiki: Membedah Makna Kebahagiaan di Hari Raya
Hari raya bukanlah garis finis bagi kesalehan, melainkan awal dari hidup baru yang lebih bertakwa. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID- Gema takbir yang memecah kesunyian fajar satu Syawal sering kali diartikan sebagai gong pembuka bagi pesta pora lahiriah. Di jalan-jalan, orang-orang mematut diri dengan kain sutra terbaru, sementara meja-meja makan penuh sesak dengan hidangan yang menggugah selera. Namun, di balik kemilau perayaan tersebut, sebuah pertanyaan fundamental muncul: siapa sebenarnya orang yang paling berbahagia di hari raya ini? Apakah mereka yang berhasil membeli pakaian termahal, ataukah mereka yang jiwanya berhasil merengkuh ampunan dari Sang Pencipta?

Dalam kitab Al-Khuthab Al-Minbariyah, Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah al-Fauzan memberikan perspektif yang tajam mengenai filosofi kebahagiaan ini. Menurut beliau, kebahagiaan kaum Muslimin pada hari raya bersumber dari sebuah anugerah agung, yakni penyempurnaan puasa Ramadhan dan pelaksanaan qiyamul lail. Bahagia karena Allah telah menjadikan hambanya mampu menggunakan karunia-Nya untuk ketaatan. Inilah yang membedakan hari raya Islam dengan perayaan kaum jahiliyah masa silam.

Sejarah mencatat, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati penduduk setempat memiliki dua hari raya yang digunakan untuk bermain-main. Rasulullah kemudian menegaskan bahwa Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik: Idulfitri dan Iduladha. Pergantian ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan pergeseran orientasi; dari sekadar bersenda gurau menjadi hari untuk berdzikir, bersyukur, serta meraih ampunan dan maaf.

Dr. Shalih Fauzan menggarisbawahi bahwa hari ini adalah hari perjamuan Allah. Berpuasa pada hari raya justru diharamkan karena dianggap berpaling dari jamuan-Nya. Syiar yang paling agung adalah pelaksanaan shalat Ied di lapangan terbuka sebagai simbol persatuan umat. Sebagian ulama menafsirkan firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.

Istilah tazakka di sini dimaknai sebagai pengeluaran zakat fitrah, sedangkan shalla adalah pengerjaan shalat Ied. Inilah paket lengkap pembersihan diri: sosial dan spiritual. Namun, kebahagiaan ini bisa menjadi semu jika kita terjebak pada gemerlap duniawi. Dr. Shalih Fauzan mengingatkan dengan tegas bahwa orang yang berbahagia bukanlah orang yang sekadar memperindah lahiriahnya dengan pakaian baru atau memuaskan nafsu makan dan bicaranya. Orang itu dikatakan bahagia apabila Allah menerima puasa serta shalatnya, dan menghapus semua dosa-dosanya.

Interpretasi ini membawa kita pada kesadaran bahwa perhiasan hakiki adalah takwa. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Araf ayat 26, meskipun pakaian indah diturunkan sebagai perhiasan, namun pakaian takwa adalah yang paling baik. Hari raya seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat iltizam (komitmen) terhadap hukum Islam, bukan ajang untuk membebaskan diri dari aturan agama.

Ironisnya, sering kali hari raya justru menjadi titik awal kembalinya perilaku menyimpang. Padahal, seorang Muslim yang benar adalah mereka yang menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti sesama, menjauhkan diri dari praktik riba, sogok-menyogok, hingga kecurangan dalam perniagaan. Kebahagiaan hari raya tidak akan bermakna jika dibarengi dengan kezhaliman. Sebagaimana diperingatkan dalam surat Ali Imran ayat 77, mereka yang menukar janji Allah dengan harga yang sedikit tidak akan mendapatkan bagian di akhirat.

Oleh karena itu, hari raya bukanlah garis finis bagi kesalehan, melainkan awal dari hidup baru yang lebih bertakwa. Kebahagiaan di hari raya adalah kebahagiaan karena telah "lulus" dari madrasah Ramadhan dengan hasil yang diridhai. Dengan mengikuti jamaah kaum Muslimin dan menjauhi perkara-perkara bidah serta maksiat, barulah seseorang benar-benar bisa mencicipi manisnya Idulfitri. Pada akhirnya, kebahagiaan itu adalah cahaya di dalam hati, bukan sekadar warna-warni kain yang membungkus tubuh.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)