Ironi Bani Israil: Menjadikan Musa Idola Namun Berulang Kali Melakukan Pembangkangan
Miftah yusufpati
Senin, 23 Maret 2026 - 05:26 WIB
Hingga kini, narasi tentang Musa tetap menjadi cermin bagi siapa pun yang berjuang demi keadilan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama besar dunia tidak mungkin mengabaikan sosok Musa bin Imran. Dalam tradisi Islam, kedudukan Musa sedemikian istimewa hingga namanya disebut sebanyak 136 kali dalam Al-Qur'an—frekuensi tertinggi dibandingkan nabi lainnya. Fenomenalitas Musa bukan sekadar soal mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular, melainkan perannya sebagai pembebas sosiopolitik bagi Bani Israil dari belenggu hegemoni Fir'aun di Mesir.
Ach. Khatib dalam studinya, Implementasi Nilai-Nilai Profetik pada Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an (2019), mencatat bahwa keberhasilan Musa membelah Laut Merah bukan hanya peristiwa teologis, melainkan titik balik psikologis. Peristiwa itu melahirkan sentimen kuat di kalangan Bani Israil sebagai kaum terpilih. Namun, ironinya, status sebagai "kaum yang diselamatkan" tidak serta-merta melahirkan ketaatan absolut. Sejarah mencatat, Musa justru menghadapi perlawanan paling keras dari kaum yang ia selamatkan sendiri.
Watak Bani Israil yang digambarkan dalam literatur klasik cenderung skeptis dan materialistis. Salah satu puncak pembangkangan mereka terekam dalam Surah An-Nisa ayat 153, ketika mereka mengajukan syarat mustahil untuk beriman:
فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً
Maka mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata." (QS. An-Nisa: 153).
Permintaan ini bukan sekadar keingintahuan intelektual, melainkan bentuk pembangkangan terhadap otoritas kenabian. Mereka menginginkan bukti empiris yang melampaui batas kemanusiaan sebagai mahar untuk menerima ajaran. Kerasnya hati kaum ini beradu dengan watak Musa yang dikenal temperamental namun tegas (al-qawiy al-amin). Musa adalah nabi yang tidak segan bertindak keras demi menjaga kemurnian tauhid.
Ketegasan Musa mencapai puncaknya dalam peristiwa Samiri dan anak sapi emas (Surah Thaha: 85-97). Saat Musa mendapati kaumnya kembali menyembah berhala hanya dalam waktu singkat ditinggal pergi ke Bukit Sinai, kemarahannya meledak. Bahkan Nabi Harun as, saudaranya sendiri yang ditugaskan menjaga kaum tersebut, tak luput dari sasaran kemarahannya. Musa menarik janggut dan kepala Harun, menuntut penjelasan atas kelalaian menjaga akidah umat.
Ach. Khatib dalam studinya, Implementasi Nilai-Nilai Profetik pada Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an (2019), mencatat bahwa keberhasilan Musa membelah Laut Merah bukan hanya peristiwa teologis, melainkan titik balik psikologis. Peristiwa itu melahirkan sentimen kuat di kalangan Bani Israil sebagai kaum terpilih. Namun, ironinya, status sebagai "kaum yang diselamatkan" tidak serta-merta melahirkan ketaatan absolut. Sejarah mencatat, Musa justru menghadapi perlawanan paling keras dari kaum yang ia selamatkan sendiri.
Watak Bani Israil yang digambarkan dalam literatur klasik cenderung skeptis dan materialistis. Salah satu puncak pembangkangan mereka terekam dalam Surah An-Nisa ayat 153, ketika mereka mengajukan syarat mustahil untuk beriman:
فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً
Maka mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata." (QS. An-Nisa: 153).
Permintaan ini bukan sekadar keingintahuan intelektual, melainkan bentuk pembangkangan terhadap otoritas kenabian. Mereka menginginkan bukti empiris yang melampaui batas kemanusiaan sebagai mahar untuk menerima ajaran. Kerasnya hati kaum ini beradu dengan watak Musa yang dikenal temperamental namun tegas (al-qawiy al-amin). Musa adalah nabi yang tidak segan bertindak keras demi menjaga kemurnian tauhid.
Ketegasan Musa mencapai puncaknya dalam peristiwa Samiri dan anak sapi emas (Surah Thaha: 85-97). Saat Musa mendapati kaumnya kembali menyembah berhala hanya dalam waktu singkat ditinggal pergi ke Bukit Sinai, kemarahannya meledak. Bahkan Nabi Harun as, saudaranya sendiri yang ditugaskan menjaga kaum tersebut, tak luput dari sasaran kemarahannya. Musa menarik janggut dan kepala Harun, menuntut penjelasan atas kelalaian menjaga akidah umat.