home wirausaha syariah

Kolom Ekonomi Syariah: Daya Tahan Krisis - Ekonomi Kita

Senin, 30 Maret 2026 - 08:40 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Daya Tahan Krisis - Ekonomi Kita
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji

LANGIT7.ID-Daya tahan ekonomi kita terhadap krisis menjadi menarik karena banyaknya wacana mengenai kemungkinan terjadinya krisis akhir akhir ini dipicu oleh kelangkaan energi imbas dari perang US Israel vs Iran. Harga minyak dunia meningkat pesat akibat ditutupnya selat Hormuz, pernah sampai di atas USD 110. Sebagai komoditi yang disubsidi kenaikan ini menekan APBN karena asumsi atau perencanaan subsidi sebesar sekiktar 82 per barel. Ini berarti diperlukan tambahan subsidi lebih dari 100 triliun.

Sebagai komoditi strategis, kenaikan BBM yang sudah terjadi di berbagai negara dan terutama negara tetangga di ASEAN, maka jika pemerintah memilih opsi mempertahankan program transfer ke bidang lain misalnya MBG, dana desa dan Koperasi Merah Putih, dan program sosial lain seperti sekolah rakyat, keluarga pra-sejahtera,jaminan Kesehatan nasional, subsidi Listrik dan pangan dan berbagai program transfer atau program sosial lain yang pada tahun ini sangat banyak bermunculan, maka harga BBM subsidi terpaksa harus dinaikkan. Hal tersebut tentu akan memicu kenaikan harga secara umum terutama karena pengaruh transportasi dan dengan kenaikan upah yang secara psikologis berkait berkelindan atau saling menutup antara upah dan harga.

Daya beli masyarakat yang sebagian besar merupakan pekerja tradisional – informal yang pada saat sekarang sulit melakukan penyesuaian. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan sektor tradisional – informal terjadi persaingan yang sangat ketat. Pemain sangat banyak - berdesakan. Kenaikan harga input tidak bisa ditutup oleh kenaikan harga output, akibatnya pengusaha informal tidak bisa menaikkan upah sesuai kenaikan harga harga dan menyebabakan daya beli mayoritas rakyat menurun.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ketika Kerugian Ekonomi Lebih Menonjol daripada Hilangnya Nyawa

Pada saat daya beli menurun maka rakyat melakukan pengetatan konsumsi dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok dan meniadakan kebutuhan non pokok dan lebih lebih asesoris. Akibatnya industri barang non pokok dan asesoris akan menurun, dan terjadi efek bola salju yang disebut krisis.

Bagaimana daya tahan ekonomi kita terhadap krisis? Menurut pengalaman atau data historis akan recovery antara 1 sampai 3 tahun, atau rata rata 2 tahun. Krisis 1998 misalnya produksi nasional menurun sampai minus 13 persen dan kembali meningkat 4.9 persen pada tahun ketiga. Krisis eksternal 2008 bermula dari US berdampak sedikit penurunan pertumbuhan produksi nasional ke 4,6 persen dan kembali ke rata rata 5 persen setahun kemudian. Krisis ekonomi akibat covid19, terjadi penurunan sampai minus -2 persen pada tahun 2020 dan kembali recorvery pada tahun kedua dan normal di tahun ke tiga.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya