Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home wirausaha syariah detail berita

Kolom Ekonomi Syariah: Daya Tahan Krisis - Ekonomi Kita

tim langit 7 Senin, 30 Maret 2026 - 08:40 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Daya Tahan Krisis - Ekonomi Kita
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji

LANGIT7.ID-Daya tahan ekonomi kita terhadap krisis menjadi menarik karena banyaknya wacana mengenai kemungkinan terjadinya krisis akhir akhir ini dipicu oleh kelangkaan energi imbas dari perang US Israel vs Iran. Harga minyak dunia meningkat pesat akibat ditutupnya selat Hormuz, pernah sampai di atas USD 110. Sebagai komoditi yang disubsidi kenaikan ini menekan APBN karena asumsi atau perencanaan subsidi sebesar sekiktar 82 per barel. Ini berarti diperlukan tambahan subsidi lebih dari 100 triliun.

Sebagai komoditi strategis, kenaikan BBM yang sudah terjadi di berbagai negara dan terutama negara tetangga di ASEAN, maka jika pemerintah memilih opsi mempertahankan program transfer ke bidang lain misalnya MBG, dana desa dan Koperasi Merah Putih, dan program sosial lain seperti sekolah rakyat, keluarga pra-sejahtera,jaminan Kesehatan nasional, subsidi Listrik dan pangan dan berbagai program transfer atau program sosial lain yang pada tahun ini sangat banyak bermunculan, maka harga BBM subsidi terpaksa harus dinaikkan. Hal tersebut tentu akan memicu kenaikan harga secara umum terutama karena pengaruh transportasi dan dengan kenaikan upah yang secara psikologis berkait berkelindan atau saling menutup antara upah dan harga.

Daya beli masyarakat yang sebagian besar merupakan pekerja tradisional – informal yang pada saat sekarang sulit melakukan penyesuaian. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan sektor tradisional – informal terjadi persaingan yang sangat ketat. Pemain sangat banyak - berdesakan. Kenaikan harga input tidak bisa ditutup oleh kenaikan harga output, akibatnya pengusaha informal tidak bisa menaikkan upah sesuai kenaikan harga harga dan menyebabakan daya beli mayoritas rakyat menurun.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ketika Kerugian Ekonomi Lebih Menonjol daripada Hilangnya Nyawa

Pada saat daya beli menurun maka rakyat melakukan pengetatan konsumsi dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok dan meniadakan kebutuhan non pokok dan lebih lebih asesoris. Akibatnya industri barang non pokok dan asesoris akan menurun, dan terjadi efek bola salju yang disebut krisis.

Bagaimana daya tahan ekonomi kita terhadap krisis? Menurut pengalaman atau data historis akan recovery antara 1 sampai 3 tahun, atau rata rata 2 tahun. Krisis 1998 misalnya produksi nasional menurun sampai minus 13 persen dan kembali meningkat 4.9 persen pada tahun ketiga. Krisis eksternal 2008 bermula dari US berdampak sedikit penurunan pertumbuhan produksi nasional ke 4,6 persen dan kembali ke rata rata 5 persen setahun kemudian. Krisis ekonomi akibat covid19, terjadi penurunan sampai minus -2 persen pada tahun 2020 dan kembali recorvery pada tahun kedua dan normal di tahun ke tiga.

Daya tahan ekonomi Indonesia dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh belanja konsumsi. Sebagaimana diceritakan di atas bahwa rakyat banyak membelanjakan hampir semua pendapatannya untuk kebutuhan konsumsi dan mengurangi atau bahkan memakan tabunngan sebagaima banyak terjadi pada beberapa tahun ini. Ketatnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang baik menyebabkan mayoritas rakyat menerima pekerjaan pas pasan dan membelanjakan semua pendapatan.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kedua Belah Fihak Jangan Hancurkan Iran

Cerita di atas menyebabkan belanja konsumsi meningkat dan menyebabkan pertumbuhan yang stabil di angka sekitar 5 persen. Bagaimanapun perbaikan ekonomi secara umum terjadi walaupun diiringi dengan perbedaan dan ketimpangan.

Daya tahan ekonomi kita cukup menyebabkan pertumbuhan yang tidak tinggi sekali, karena hanya berbasis konsumsi. Krisis akibat perang seandainya terjadi juga diperkirakan akan kembali dalam satu atau dua tahun.

Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bagaimana Iran Membiayai Perang?

Ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang tidak mudah jatuh tetapi juga tidak tumbuh melambung. Stabil di sekitar 5 persen dalam jangka yang panjang. Pertumbuhan tinggi menuju kepada negara maju umumnya disertai pertumbuhan tinggi pada jangka yang panjang. Umumnya terjadi karena perpaduan saving dan investasi yang tinggi, serta inovasi dan pebaikan teknologi di berbagai sektor.

Ekonomi kita oligopolistik menyebabkan perputaran cepat di atas, penguasaan pasar terkonsentrasi dan kewira usahaan yang tidak menyebar - kelompok menengah yang lemah. Pekerjaan mayoritas pas-pasan, ketidak adilan tinggi tetapi diterima dengan kesabaran karena kebutuhan pangan masih terpenuhi dan masih membaik dalam jangka panjang. Menyebabkan ekonomi yang memiliki daya tahan yang cukup baik, lentur dan cukup cepat recovery, tetapi terganjal untuk maju pesat disebabkan oleh faktor struktural - kebijakan yang bagaimana bias ke ekonomi sirkuit atas. (Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)