LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES) Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin menegaskan masa depan ekonomi syariah Indonesia masih sangat menjanjikan. Namun, menurutnya, posisi Indonesia saat ini belum mencerminkan potensi sebenarnya sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Ma'ruf Amin mengatakan, capaian ekonomi syariah nasional memang menunjukkan perkembangan signifikan. Indonesia kini sudah berada di peringkat ketiga global, naik jauh dari posisi belasan pada tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, ia menilai target Indonesia seharusnya jauh lebih tinggi.
"Hari ini, siang ini saya mengatakan bahwa ekonomi syariah masa depannya cerah, tidak gelap," ujar Ma;ruf Amin, dilansir dari YouTube Masyarakat Ekonomi Syariah, Senin (25/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus PP Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Ia melihat semangat besar dalam kepengurusan baru organisasi tersebut sebagai modal penting untuk mempercepat penguatan ekonomi syariah nasional.
Baca juga: Rosan Roeslani Minta MES Tak Sekadar Besar di Statistik, Tapi Berdampak NyataMenurut Ma'ruf Amin, kontribusi ekonomi syariah terhadap ekonomi nasional saat ini sudah cukup besar, berada di kisaran 30 hingga 40 persen. Tetapi angka tersebut dinilai masih belum sebanding dengan potensi yang dimiliki Indonesia.
"Tapi potensi kita seharusnya bukan di tiga tapi mestinya nomor satu di dunia."
Ma'ruf Amin menekankan, penguatan ekonomi syariah tak cukup hanya mengejar peringkat global. Yang lebih penting, dampaknya harus benar-benar dirasakan masyarakat luas.
Ia menilai ekonomi syariah tidak semata berbicara soal keuntungan bisnis, melainkan juga soal pelayanan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
"Karena memang ekonomi syariah itu bukan hanya mencari untung, bukan hanya istirbah istilahnya bahasa kyainya itu mencari untung tapi yang utama adalah khidmah ijtimaiyah, pelayanan publik."
Baca juga: Rosan Roeslani Pimpin MES, Ma'ruf Amin, Erick Thohir hingga Bahlil Masuk KepengurusanKarena itu, ia mendorong program ekonomi syariah yang lebih terarah, penguatan regulasi, serta penguatan kelembagaan untuk memperbesar dampak ekonomi syariah di Indonesia.
Salah satu yang dinantikan, kata Ma'ruf Amin, adalah transformasi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menjadi badan yang lebih kuat untuk mengorkestrasi gerakan ekonomi syariah nasional.
Ia juga menyinggung pentingnya kehadiran payung hukum yang lebih komprehensif melalui undang-undang ekonomi syariah. Saat ini, menurutnya, regulasi ekonomi syariah masih tersebar di berbagai sektor seperti perbankan, asuransi, hingga pasar modal.
Di sektor keuangan syariah, Ma'ruf Amin menyoroti instrumen sukuk negara yang nilainya sudah melampaui Rp3.000 triliun. Namun, ia menilai perkembangan sukuk korporasi maupun sukuk daerah masih tertinggal dan perlu didorong lebih agresif.
Baca juga: Ekonomi Syariah Indonesia, Potensi Besar yang Masih Menunggu LompatanMa'ruf Amin juga menegaskan ekonomi syariah bukan sistem ekonomi eksklusif untuk umat Islam. Menurutnya, konsep ini bersifat inklusif dan terbuka bagi semua kalangan.
"Ekonomi syariah juga walaupun namanya syariah bukan hanya untuk orang Islam saja tapi ekonomi syariah adalah ekonomi yang inklusif ekonomi yang rahmatan lil alamin."
Ia menambahkan, prinsip syariah justru tidak menghambat inovasi. Sebaliknya, ekonomi syariah disebut mendorong penciptaan nilai tambah selama tetap menjaga keadilan, kebermanfaatan, dan tidak merugikan masyarakat.
Baca juga: Penguatan Sektor Riil Jadi Perhatian Utama Pengembangan Ekosistem Ekonomi Syariah NasionalMenutup sambutannya, Ma'ruf Amin optimistis ekonomi syariah akan menjadi salah satu pilar penting masa depan Indonesia jika dikelola secara serius.
Jika ekonomi syariah berkembang kuat dan memberi dampak nyata bagi masyarakat, menurutnya, masa depan Indonesia juga akan ikut semakin cerah.
(lam)