LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama Nasaruddin Umar yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) menegaskan tantangan terbesar ekonomi syariah di Indonesia bukan sekadar mencatat pertumbuhan statistik, melainkan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama kelompok yang selama ini terjebak dalam kemiskinan struktural.
Dalam pandangannya, keberhasilan ekonomi syariah tak bisa diukur hanya dari besarnya angka industri atau pertumbuhan sektor keuangan syariah, tetapi dari seberapa jauh konsep tersebut mampu mempersempit ketimpangan sosial dan membuka akses bagi masyarakat yang selama ini tertutup dari peluang ekonomi.
"Keberhasilan itu tidak hanya di dalam statistik, tapi seberapa besar keberhasilan itu berdampak di dalam masyarakat," kata Nasaruddin Umar dalam pelantikan pengurus baru Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dilansir dari YouTube Masyarakat Ekonomi Syariah, Senin (25/5/2026)..
Menurut Nasaruddin, ekonomi syariah sejak awal tidak dirancang hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, termasuk umat Islam semata. Ia menekankan konsep syariah harus menjadi rahmat yang memberi manfaat luas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga: Ma'ruf Amin: Ekonomi Syariah RI Harus Jadi Nomor Satu DuniaIa juga menyoroti gagasan yang muncul dalam kepengurusan baru MES, termasuk target mempercepat masa tunggu masyarakat untuk menabung biaya umrah dari 15 tahun menjadi hanya dua tahun. Bagi Nasaruddin, gagasan seperti itu menunjukkan perlunya langkah konkret yang terukur, bukan sekadar slogan.
"Ekonomi syariah itu adalah untuk membesarkan umat, membesarkan masyarakat," ujarnya.
Nasaruddin menilai kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin masih menjadi ujian besar bagi pengembangan ekonomi syariah. Semakin lebar jurang ketimpangan, semakin besar pula pertanyaan terhadap efektivitas konsep ekonomi syariah dalam menghadirkan keadilan.
Ia lalu mengurai tiga bentuk kemiskinan yang menurutnya harus menjadi perhatian serius. Pertama, kemiskinan natural yang dipicu bencana atau kondisi mendadak yang menghancurkan sumber penghidupan seseorang. Kedua, kemiskinan kultural yang muncul karena pola hidup dan budaya yang tidak produktif. Ketiga, kemiskinan struktural, yakni kondisi ketika seseorang memiliki kemauan dan kemampuan, tetapi tertutup akses karena tidak memiliki modal, dokumen, atau koneksi untuk berkembang.
Baca juga: Rosan Roeslani Minta MES Tak Sekadar Besar di Statistik, Tapi Berdampak NyataMenurut dia, kategori terakhir menjadi tantangan paling mendesak karena banyak orang sebenarnya memiliki potensi, tetapi tertahan oleh sistem yang tidak memberi ruang.
"Nah, inilah tadi yang disampaikan Pak Rozan, bahwa kemiskinan struktural ini harus menjadi salah satu bagian program kerja dari Mesh," katanya.
Ia menekankan bantuan sosial atau pemberdayaan ekonomi juga tidak bisa dilakukan secara seragam. Menurutnya, pendekatan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok agar intervensi benar-benar efektif.
Dalam pidatonya, Nasaruddin juga mendorong keberanian untuk membangun terobosan baru dalam ekonomi syariah Indonesia. Ia mengingatkan mempertahankan pola pikir lama hanya akan membuat perkembangan ekonomi syariah berjalan di tempat.
"Selama kita tidak berani berpikir lain, maka kita akan mempertahankan status quo kita yang seperti apa adanya sekarang," ujarnya.
Baca juga: Rosan Roeslani Pimpin MES, Ma'ruf Amin, Erick Thohir hingga Bahlil Masuk KepengurusanBaca juga: Ekonomi Syariah Indonesia, Potensi Besar yang Masih Menunggu LompatanIa juga menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi rujukan dunia dalam pengembangan ekonomi syariah. Menurutnya, selama ini Indonesia terlalu sering menjadi konsumen pemikiran dari luar, padahal kondisi nasional justru sangat kondusif untuk melahirkan model ekonomi syariah yang relevan dengan tantangan modern.
Karena itu, kolaborasi antara pengurus baru MES dan kalangan ahli ekonomi Islam diharapkan mampu melahirkan terobosan baru yang bukan hanya bermanfaat bagi Indonesia, tetapi juga menjadi referensi global.
Bagi Nasaruddin, arah tersebut sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menekankan ekonomi kerakyatan, penguatan sektor mikro, dan hilirisasi ekonomi yang selama ini didorong pemerintah.
(lam)