home masjid

Misi Empat Puluh Malam: Kronologi Turunnya Taurat di Bukit Thursina

Jum'at, 03 April 2026 - 06:09 WIB
Kepemimpinan membutuhkan pembagian tugas yang jelas dan bahwa fitnah sering kali masuk melalui celah ketidaksabaran. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah Bani Israil adalah sejarah tentang ketidaksabaran yang kronis. Setelah selamat dari kejaran bala tentara Fir’aun dan menyeberangi laut yang terbelah, kaum ini kembali diuji dalam sebuah penantian panjang. Di saat Allah Subhanahu wa ta'ala hendak melengkapi nikmat-Nya dengan menurunkan hukum-hukum syariat melalui sebuah kitab, gejolak justru muncul dari dalam dada mereka sendiri.

Musa Alaihissalam dipanggil menghadap Sang Pencipta di Bukit Thursina. Awalnya, janji itu ditetapkan selama tiga puluh malam, namun Allah menyempurnakannya menjadi empat puluh malam. Penambahan waktu sepuluh malam ini bukanlah tanpa alasan. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel "Duruus wa Ibar min Qashash Musa Alaihissalam" karya Harits Abu Muhammad, penambahan waktu itu bertujuan agar jiwa Musa lebih siap menerima wahyu dan agar kerinduan Bani Israil terhadap petunjuk Tuhan semakin mengakar.

Sebelum mendaki bukit suci, Musa menitipkan tongkat kepemimpinan kepada saudaranya, Harun Alaihissalam. Sebuah pesan tegas ditinggalkan: "Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (QS. al-A’raf: 142). Namun, di tengah absennya Musa, seorang provokator bernama Samiri mulai memainkan peran antagonisnya. Ia memanfaatkan kegelisahan kaum yang merasa ditinggalkan dengan menciptakan sebuah berhala: anak lembu dari perhiasan emas yang bisa bersuara.

Tragedi ini menjadi kontras yang menyayat. Di kaki bukit, mayoritas Bani Israil berpesta pora menyembah patung, sementara di puncak Thursina, Musa sedang berada dalam puncak kedekatan dengan Rabbnya. Al-Quran menegaskan keistimewaan Musa sebagai "Kalimullah"—pribadi yang diajak bicara langsung oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

"Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung." (QS. an-Nisa: 164).

Keunikan interaksi ini menjadi bahasan mendalam di kalangan ulama. Penggunaan kata "takliima" (secara langsung) merupakan bentuk penegasan (mashdar muakkidah) bahwa percakapan tersebut benar-benar terjadi dengan suara dan huruf yang sesuai dengan kemuliaan Allah, bukan sekadar ilham atau lintasan pikiran. Ibnu Hajar asy-Syafi’i dalam Syarah Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa suara tersebut adalah sifat Dzat-Nya yang tidak serupa dengan makhluk. Dialog ini membuktikan kedudukan Musa yang sangat tinggi, hingga ia berani meminta hal yang mustahil di dunia: melihat wajah Allah secara langsung.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya