LANGIT7.ID-Sejarah Bani Israil adalah sejarah tentang ketidaksabaran yang kronis. Setelah selamat dari kejaran bala tentara Fir’aun dan menyeberangi laut yang terbelah, kaum ini kembali diuji dalam sebuah penantian panjang. Di saat Allah Subhanahu wa ta'ala hendak melengkapi nikmat-Nya dengan menurunkan hukum-hukum syariat melalui sebuah kitab, gejolak justru muncul dari dalam dada mereka sendiri.
Musa Alaihissalam dipanggil menghadap Sang Pencipta di Bukit Thursina. Awalnya, janji itu ditetapkan selama tiga puluh malam, namun Allah menyempurnakannya menjadi empat puluh malam. Penambahan waktu sepuluh malam ini bukanlah tanpa alasan. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel "
Duruus wa Ibar min Qashash Musa Alaihissalam" karya Harits Abu Muhammad, penambahan waktu itu bertujuan agar jiwa Musa lebih siap menerima wahyu dan agar kerinduan Bani Israil terhadap petunjuk Tuhan semakin mengakar.
Sebelum mendaki bukit suci, Musa menitipkan tongkat kepemimpinan kepada saudaranya, Harun Alaihissalam. Sebuah pesan tegas ditinggalkan: "
Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (QS. al-A’raf: 142). Namun, di tengah absennya Musa, seorang provokator bernama Samiri mulai memainkan peran antagonisnya. Ia memanfaatkan kegelisahan kaum yang merasa ditinggalkan dengan menciptakan sebuah berhala: anak lembu dari perhiasan emas yang bisa bersuara.
Tragedi ini menjadi kontras yang menyayat. Di kaki bukit, mayoritas Bani Israil berpesta pora menyembah patung, sementara di puncak Thursina, Musa sedang berada dalam puncak kedekatan dengan Rabbnya. Al-Quran menegaskan keistimewaan Musa sebagai "Kalimullah"—pribadi yang diajak bicara langsung oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا"
Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung." (QS. an-Nisa: 164).
Keunikan interaksi ini menjadi bahasan mendalam di kalangan ulama. Penggunaan kata "
takliima" (secara langsung) merupakan bentuk penegasan (
mashdar muakkidah) bahwa percakapan tersebut benar-benar terjadi dengan suara dan huruf yang sesuai dengan kemuliaan Allah, bukan sekadar ilham atau lintasan pikiran. Ibnu Hajar asy-Syafi’i dalam Syarah Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa suara tersebut adalah sifat Dzat-Nya yang tidak serupa dengan makhluk. Dialog ini membuktikan kedudukan Musa yang sangat tinggi, hingga ia berani meminta hal yang mustahil di dunia: melihat wajah Allah secara langsung.
"Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu," pinta Musa dengan penuh kerinduan. Namun, fisik manusia di dunia tidak dirancang untuk menahan tajali (penampakan) kemuliaan Tuhan. Allah memerintahkan Musa melihat ke arah gunung. Ketika Allah menampakkan keagungan-Nya, gunung yang kokoh itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa iman membutuhkan ketundukan pada batasan, bukan sekadar pemuasan rasa ingin tahu visual.
Sepulangnya dari Thursina, Musa tidak hanya membawa Luh-Luh (kepingan batu) berisi Taurat yang ditulis langsung dengan "Tangan" Allah, tetapi juga membawa kemarahan atas pengkhianatan kaumnya. Taurat yang ia bawa adalah penjelasan bagi segala sesuatu, sebuah manual hidup untuk kaum yang baru saja merdeka dari perbudakan fisik namun masih terbelenggu perbudakan mental.
Ibrah dari Thursina mengajarkan bahwa kepemimpinan membutuhkan pembagian tugas yang jelas (Musa dan Harun), dan bahwa fitnah (Samiri) sering kali masuk melalui celah ketidaksabaran. Taurat yang diturunkan di puncak bukit itu bukan sekadar teks hukum, melainkan simbol bahwa untuk mencapai derajat ketaatan, manusia harus mampu mendaki terjalnya ujian kesabaran dan menyingkirkan berhala-berhala ego di kaki gunung kehidupan.
(mif)