Perjalanan Nabi Musa menjemput Taurat bukan sekadar prosesi hukum, melainkan taruhan iman bagi Bani Israil. Di puncak Thursina, sebuah dialog sakral terjadi, sementara di kaki bukit, api fitnah Samiri mulai berkobar.
Paham Asy ariyah bertahan lebih dari seribu tahun sebagai mayoritas teologi dunia Islam. Kekuatannya terletak pada metodologi jalan tengah yang mendamaikan nalar dan wahyu di tengah badai polemik.
Fiqh tumbuh di tengah ekspansi politik Islam. Dari kebutuhan mengatur masyarakat majemuk, ia menjelma disiplin hukum mapan, dibentuk perdebatan ulama, patronase penguasa, dan dinamika sejarah.
Di tengah laju sains modern, Al-Quran tetap menuntut pembacaan rasional. Bukan dengan membenarkan teori ilmiah, melainkan dengan dialog kritis antara wahyu, akal, dan pengalaman manusia.
Al-Quran sering diminta menjawab semua persoalan manusia. Padahal, ia diturunkan sebagai kitab hidayah: penuntun akidah, hukum, dan akhlak demi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Di balik keindahan bahasanya, Al-Quran menyimpan keteraturan mengejutkan. Dari keseimbangan kata hidup-mati hingga hitungan hari dan bulan, para peneliti membaca jejak mukjizat yang bekerja lewat struktur teks.
Quraish Shihab menafsirkan kebangsaan bukan sekadar ikatan darah atau tanah, melainkan amanah moral yang dijiwai takwa. Al-Quran, katanya, mengajarkan cinta tanah air tanpa menyingkirkan Tuhan.
Bucaille menyebut ada banyak ruang pertemuan antara Quran dan Bibel: kisah nabi-nabi besar (Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa), juga kisah Maryam, kelahiran Isa, banjir besar, hingga eksodus Bani Israil.
Perjanjian Lama merupakan kumpulan fasal-fasal yang panjangnya tidak seragam dan berisi berbagai macam tema. Fasal-fasal ini ditulis selama lebih dari 9 abad, dalam beberapa bahasa, dan berawal dari tradisi lisan.
Pandangan terhadap persoalan-persoalan ilmiah silih berganti, bukan saja dalam lapangan pembahasan satu ilmu saja, tetapi terutama juga dalam teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan.