Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Maurice Bucaille: Ketika Dokter Bedah Menguji Kitab Suci dengan Mikroskop Ilmu

miftah yusufpati Senin, 18 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Maurice Bucaille: Ketika Dokter Bedah Menguji Kitab Suci dengan Mikroskop Ilmu
Maurice Bucaille. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Di Paris 1976, sebuah buku tipis terbit dalam bahasa Prancis dan segera memicu perdebatan panjang di Eropa: La Bible, Le Coran et la Science. Penulisnya, Maurice Bucaille, seorang dokter ahli bedah, bukan teolog. Justru dari luar pagar institusi agama itu ia berani mengajukan pertanyaan yang selama ini dianggap tabu: sejauh mana isi kitab suci tahan uji di hadapan ilmu pengetahuan modern?

Bucaille kemudian dikenal luas di dunia Islam. Terjemahan bukunya beredar di Indonesia sejak 1979 dengan judul Bibel, Qur’an dan Sains Modern (Bulan Bintang). Ia tidak hendak menafsir ayat dengan mikroskop, melainkan menimbang konsistensi kisah-kisah besar Alkitab dan Al-Qur’an terhadap temuan ilmiah yang sudah mapan.

Bucaille menyebut ada banyak “ruang pertemuan” antara Qur’an dan Bibel: kisah nabi-nabi besar (Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa), juga kisah Maryam, kelahiran Isa, banjir besar, hingga eksodus Bani Israil. Semua itu, katanya, tak sekadar narasi teologis, melainkan peristiwa yang dapat dipertanyakan kembali dengan alat sejarah, arkeologi, bahkan sains modern.

Di titik ini, ia melihat perbedaan mendasar. Bibel—Perjanjian Lama maupun Baru—menyimpan celah kontradiksi ketika diuji sains. Riwayat penciptaan alam semesta, misalnya, menampilkan kronologi yang tak lagi sesuai dengan kosmologi modern. Demikian pula silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Lukas, yang tak konsisten satu sama lain.

Baca juga: Siapa Menulis Taurat? Jejak di Balik Lima Kitab Menurut Maurice Bucaille

Qur’an, menurut Bucaille, lebih hati-hati. Ia tidak menemukan kontradiksi dengan temuan ilmiah. Bahkan, dalam kisah Isa, Qur’an justru berbeda dari Injil: menisbatkan silsilah lewat garis Maryam, bukan lewat “ayah” biologis yang tak pernah ada. “Dengan begitu maka Yesus adalah keturunan Nuh dan Adam, dari segi ibunya, Maryam,” tulisnya.

Banjir dan Laut Terbelah

Dua peristiwa besar yang paling sering ditimbang dengan kaca mata ilmiah adalah banjir Nabi Nuh dan keluarnya Bani Israil dari Mesir.

Tentang banjir, Bucaille mengutip penelitian sejarah peradaban. Catatan-catatan Mesopotamia memang menyinggung banjir besar, tetapi riwayat Bibel tampak berlebihan: seluruh dunia musnah, hanya Nuh dan keluarganya selamat. Qur’an lebih singkat dan tidak memberi gambaran global. “Sains modern tidak menimbulkan kritik terhadap riwayat Qur’an,” ujarnya.

Tentang eksodus, justru ada bukti arkeologis yang memperkuat. Penemuan mumi Firaun abad ke-19, misalnya, memberi ruang tafsir baru bagi ayat Qur’an tentang jasad Firaun yang diselamatkan agar menjadi tanda bagi generasi setelahnya (QS. Yunus:92). Bibel menceritakan Musa membelah Laut Merah; Qur’an mengisahkan laut yang terbelah karena perintah Ilahi, lalu menenggelamkan pasukan Mesir. Bagi Bucaille, dua versi itu saling menyempurnakan.

Poin penting dari Bucaille bukanlah menjadikan sains sebagai hakim tunggal atas kitab suci, melainkan melihat konsistensi teks. “Sikap obyektif ini penting sekali kita perhatikan untuk menghadapi dakwaan-dakwaan yang tidak mempunyai dasar, yang mengatakan bahwa Muhammad itu pengarang Qur’an,” tulisnya.

Dalam narasi Bibel, kata Bucaille, mudah ditemui bagian-bagian yang tak lagi relevan secara ilmiah. Qur’an tidak mengulang kekeliruan itu. Sebaliknya, ia menampilkan koreksi—tanpa kehilangan substansi spiritual. Dari sinilah muncul kesimpulannya yang terkenal: Qur’an berada “di luar kritik sains modern”.

Baca juga: Perjanjian Lama: Sejarah, Penyusunan, dan Perkembangannya Menurut Maurice Bucaille

Pertanyaan untuk Umat

Lebih dari empat dekade buku itu beredar, perdebatan tetap hidup. Di dunia Islam, Bucaille sering dipuja—bahkan melahirkan istilah “Bucailisme”, semangat membuktikan Qur’an dengan sains. Namun, kritik pun datang. Sejumlah sarjana Muslim mengingatkan bahaya reduksionisme: mengurung teks suci dalam logika laboratorium.

Tapi jejak yang ditinggalkan Bucaille jelas: ia memaksa kita menimbang kembali relasi kitab suci dengan pengetahuan. Apakah Al-Qur’an memang selamanya “selaras” dengan sains, ataukah harmoni itu lahir dari tafsir yang lentur?

Di ruang publik Indonesia, pertanyaan itu tetap relevan. Dari perdebatan teori evolusi di sekolah hingga tafsir ayat tentang alam semesta, umat berhadapan dengan tantangan yang sama: bagaimana menjaga iman tanpa menutup pintu ilmu.


Baca juga: Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan


(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)