LANGIT7.ID-Di sebuah pagi abad XVIII, Jean Astruc, tabib Raja Louis XV, menulis dengan tangan gemetar: “Ada dua teks berbeda dalam Kejadian.” Sebuah kalimat yang tampak sederhana, tapi pada zamannya terasa seperti petir di rumah ibadah.
Taurat — yang selama berabad-abad diyakini sebagai karya tunggal Nabi Musa — ternyata menyimpan banyak tangan, banyak suara, dan banyak kontradiksi.
Astruc bukanlah orang pertama yang curiga. Sejak abad XII, Aben Ezra sudah bergumam: “Bagaimana mungkin Musa menulis tentang kematiannya sendiri?” Namun butuh waktu enam abad untuk mendobrak tembok kepercayaan yang kokoh itu. Astruc hanya melakukan satu hal: membaca teks Kejadian dengan jeli dan menemukan dua pola. Dalam satu bagian Tuhan disebut Yahweh, di bagian lain disebut Elohim. Itu petunjuk adanya sumber yang berbeda.
Temuan Astruc membuka jalan bagi para sarjana abad XIX: Eichhorn, Ilgen, dan kemudian para pakar yang membagi Taurat (atau Pentateukh, lima kitab pertama Perjanjian Lama) ke dalam empat sumber utama: Yahwist, Elohist, Deuteronomist, dan Priestly (Sakerdotal).
Taurat — yang terdiri atas Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan — adalah kitab suci yang tidak hanya mencatat sejarah bangsa Israel dari penciptaan alam sampai kematian Musa, tetapi juga kerangka hukum sosial, agama, dan politik. Selama berabad-abad, baik
Yahudi maupun Kristen meyakini bahwa Musa sendiri menulis semuanya, merujuk pada beberapa ayat seperti Keluaran 17:14: “Tulislah itu dalam kitab…”, Bilangan 33:2, dan Ulangan 31:9.
Baca juga: Al-Quran Meluruskan Taurat yang Menuduh Nabi Luth Berzina dengan Putrinya Bahkan Yesus dalam Injil Yohanes 5:46–47 dikisahkan berkata: “Jika kamu percaya kepada Musa, kamu tentu akan percaya kepada-Ku, sebab ia menulis tentang Aku.”
Tapi kebenaran tekstual perlahan retak. Maurice Bucaille, dalam La Bible, Le Coran et la Science (1979:31–78), menyebut keretakan itu sebagai bukti bahwa kitab suci ini adalah hasil proses panjang yang melibatkan tradisi-tradisi lisan, penyusun, dan editor selama berabad-abad.
Taurat, katanya, tidak selesai dalam satu malam di bawah sinar Sinai, tetapi terbentuk antara abad X–VI SM, melalui lapisan-lapisan sejarah, politik, dan teologi.
Abad XIX menjadi puncak kritik tekstual. Para peneliti mendapati bahwa Taurat tidak hanya berasal dari empat sumber besar, tetapi juga puluhan fragmen kecil yang disusun ulang oleh para penulis anonim. Misalnya, kisah Penciptaan hingga banjir Nuh di Kejadian fasal 1–11 menunjukkan pola yang berganti-ganti antara Yahwist (Y) dan Priestly (S), kadang dalam potongan pendek hanya beberapa ayat.
Bucaille menunjukkan sebuah tabel yang menggambarkan betapa “tercampurnya” teks itu. Contohnya: Kejadian fasal 7 tentang banjir, dalam 100 baris teks, bolak-balik berpindah dari satu sumber ke sumber lain hingga 17 kali. Tidak heran jika kita menemukan kontradiksi: jumlah binatang yang masuk ke bahtera berbeda, durasi banjir berbeda, dan bahkan dialog para tokoh kadang bertentangan.
Lebih dari sekadar soal teologis, ini juga soal politik. Tradisi Sakerdotal yang mendominasi bagian-bagian akhir Taurat lahir setelah bangsa Israel kembali dari pengasingan di Babilonia pada abad VI SM. Pada saat itu, hukum agama dan hukum negara tumpang tindih. Ada kepentingan untuk menyusun sebuah “konstitusi suci” yang memberi legitimasi pada kepemimpinan imam-imam Yahudi.
Baca juga: Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Adam? Begini Menurut Taurat, Injil dan Al-Quran Bucaille menulis: “Taurat adalah hasil kompromi sejarah yang dirakit dengan cermat oleh generasi demi generasi. Sebuah mozaik yang indah, tapi jauh dari sempurna.”
Kini, para sarjana modern sepakat: Musa mungkin memang menuliskan sebagian hukum-hukum dan catatan perjalanan, tetapi Taurat yang kita kenal sekarang jelas bukan karya tunggalnya. Taurat adalah sebuah simfoni, dengan komposer yang tidak tunggal, partitur yang disusun berabad-abad kemudian, dan nada-nada yang kadang sumbang.
Seperti yang diungkap oleh R.P. de Vaux, Direktur Lembaga Bibel di Yerusalem, tradisi panjang ini justru membuat Taurat tetap hidup. Ia bukan sekadar buku sejarah, tetapi cermin perjalanan bangsa Israel — lengkap dengan kebenaran, dongeng, politik, dan iman yang berlapis-lapis.
Mungkin inilah sebabnya, bagi pembaca modern, Taurat lebih tepat disebut sebagai dokumen sejarah kolektif daripada kitab yang turun dari langit. Di balik lima kitab itu, ada banyak tangan yang menulis, banyak suara yang bersaing, dan banyak rahasia yang tetap membayang.
Dan pada akhirnya, seperti ditulis Bucaille: “Ini adalah permainan manusia terhadap firman Tuhan. Sebuah permainan yang meninggalkan jejak hingga kini.”
Baca juga: Rabi Yahudi: Umat Islam Swedia Cegah Rencana Pembakaran Taurat(mif)