Tinjauan Historis: Mengapa Konflik Yahudi-Islam Melampaui Persoalan Teritorial?
Miftah yusufpati
Ahad, 05 April 2026 - 05:54 WIB
Permusuhan Yahudi terhadap Islam adalah sebuah garis panjang yang ditarik dari kedengkian masa lalu menuju ambisi masa depan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah sering kali menjadi panggung bagi konflik yang tidak berkesudahan. Di antara sekian banyak drama kemanusiaan, perseteruan antara kaum Yahudi dan Islam menempati posisi yang unik sekaligus pelik. Selama beberapa dekade terakhir, opini publik global cenderung menggiring hakikat pertarungan ini ke dalam ranah sekuler: perebutan wilayah, sengketa air, hingga urusan pengungsi. Seolah-olah, jika sebuah garis perbatasan disepakati di atas meja perundingan, maka dendam sejarah itu akan menguap begitu saja.
Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman literatur sejarah dan wahyu, narasi tersebut tampak seperti upaya penyederhanaan yang dipaksakan. Substansi permusuhan Yahudi terhadap Islam bukanlah persoalan geografis, melainkan persoalan eksistensial yang berakar pada agama dan akidah. Permusuhan ini tidak lahir saat berdirinya negara modern di Timur Tengah, melainkan sudah menampakkan taringnya bahkan sebelum Muhammad bin Abdullah menerima wahyu pertama di Gua Hira.
Jejak permusuhan ini dapat ditelusuri sejak masa kanak-kanak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Abu Thalib membawa keponakannya berdagang ke Syam, pendeta Buhairah memberikan peringatan yang sangat spesifik.
Buhairah mengenali tanda-tanda kenabian pada sang bocah dan memerintahkan Abu Thalib untuk segera membawanya pulang ke Mekah, menjaganya dengan ketat dari incaran kaum Yahudi.
Ketakutan Yahudi saat itu bukanlah ketakutan akan kehilangan tanah, melainkan ketakutan akan hancurnya hegemoni spiritual dan rencana besar mereka jika nabi terakhir tidak berasal dari kalangan Bani Israil.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabadikan karakter permusuhan ini dalam Al-Quran melalui firman-Nya:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman literatur sejarah dan wahyu, narasi tersebut tampak seperti upaya penyederhanaan yang dipaksakan. Substansi permusuhan Yahudi terhadap Islam bukanlah persoalan geografis, melainkan persoalan eksistensial yang berakar pada agama dan akidah. Permusuhan ini tidak lahir saat berdirinya negara modern di Timur Tengah, melainkan sudah menampakkan taringnya bahkan sebelum Muhammad bin Abdullah menerima wahyu pertama di Gua Hira.
Jejak permusuhan ini dapat ditelusuri sejak masa kanak-kanak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Abu Thalib membawa keponakannya berdagang ke Syam, pendeta Buhairah memberikan peringatan yang sangat spesifik.
Buhairah mengenali tanda-tanda kenabian pada sang bocah dan memerintahkan Abu Thalib untuk segera membawanya pulang ke Mekah, menjaganya dengan ketat dari incaran kaum Yahudi.
Ketakutan Yahudi saat itu bukanlah ketakutan akan kehilangan tanah, melainkan ketakutan akan hancurnya hegemoni spiritual dan rencana besar mereka jika nabi terakhir tidak berasal dari kalangan Bani Israil.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabadikan karakter permusuhan ini dalam Al-Quran melalui firman-Nya:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا