Ustadz Abdul Somad: Dunia Memang Selalu Diwarnai Perang, Muslim Jangan Kaget
Nabil
Selasa, 07 April 2026 - 21:56 WIB
Ustadz Abdul Somad: Dunia Memang Selalu Diwarnai Perang, Muslim Jangan Kaget
LANGIT7.ID-Jakarta;Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa konflik dan peperangan bukanlah fenomena baru dalam kehidupan manusia. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan umat Islam agar tidak terkejut menghadapi kondisi dunia yang penuh gejolak.
Menurutnya, sejak zaman dahulu, peradaban besar selalu diwarnai benturan kekuatan, mulai dari Romawi dan Persia hingga kerajaan-kerajaan besar lainnya.
“Bahwa peradaban manusia selalu ada clash, ada konflik antara satu kekuatan dengan kekuatan lain ingin berkuasa, ingin mempengaruhi, ingin merebut makanan. Jadi jangan kita menjadi orang yang kagetan, menjadi orang yang seakan akan dunia ini baru terjadi kemarin dan kita baru lahir pagi tadi melihat perang ini kaget, terkejut,” ujar Ustadz Abdul Somad dalam webinar Hijrah Bersama UAS, dengan tema Bagaimana Muslimin Menyikapi Krisis, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa konflik bukan hanya terjadi di Timur Tengah atau dunia modern, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang, termasuk di Nusantara. Kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, hingga Demak disebutnya mengalami fase konflik dan pergantian kekuasaan.
Dalam pandangannya, Islam hadir bukan untuk menghapus realitas konflik, melainkan mengatur etika dalam peperangan. Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan batasan moral yang jelas, seperti larangan membunuh anak-anak, orang tua, hingga merusak tempat ibadah dan lingkungan.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa sikap ekstrem dalam menyikapi konflik juga tidak dibenarkan. Di satu sisi, ada yang menginginkan dunia tanpa perang, namun menurutnya hal itu tidak realistis. Di sisi lain, ada yang mendorong konflik tanpa batas, yang juga dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.
“Jadi manusia ini menyikapi perang ini terbagi dua, yang satu, jangan ada perang dan sampai sekarang enggak terwujud, yang satu mengatakan kita berperang saja, ini jahat, zalim, aniaya, Islam enggak-- Islam jalan tengah, jangan berperang, berdamai, tapi kalau kamu diperangi orang kamu mesti membela diri,” ujar dia.
Menurutnya, sejak zaman dahulu, peradaban besar selalu diwarnai benturan kekuatan, mulai dari Romawi dan Persia hingga kerajaan-kerajaan besar lainnya.
“Bahwa peradaban manusia selalu ada clash, ada konflik antara satu kekuatan dengan kekuatan lain ingin berkuasa, ingin mempengaruhi, ingin merebut makanan. Jadi jangan kita menjadi orang yang kagetan, menjadi orang yang seakan akan dunia ini baru terjadi kemarin dan kita baru lahir pagi tadi melihat perang ini kaget, terkejut,” ujar Ustadz Abdul Somad dalam webinar Hijrah Bersama UAS, dengan tema Bagaimana Muslimin Menyikapi Krisis, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa konflik bukan hanya terjadi di Timur Tengah atau dunia modern, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang, termasuk di Nusantara. Kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, hingga Demak disebutnya mengalami fase konflik dan pergantian kekuasaan.
Dalam pandangannya, Islam hadir bukan untuk menghapus realitas konflik, melainkan mengatur etika dalam peperangan. Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan batasan moral yang jelas, seperti larangan membunuh anak-anak, orang tua, hingga merusak tempat ibadah dan lingkungan.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa sikap ekstrem dalam menyikapi konflik juga tidak dibenarkan. Di satu sisi, ada yang menginginkan dunia tanpa perang, namun menurutnya hal itu tidak realistis. Di sisi lain, ada yang mendorong konflik tanpa batas, yang juga dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.
“Jadi manusia ini menyikapi perang ini terbagi dua, yang satu, jangan ada perang dan sampai sekarang enggak terwujud, yang satu mengatakan kita berperang saja, ini jahat, zalim, aniaya, Islam enggak-- Islam jalan tengah, jangan berperang, berdamai, tapi kalau kamu diperangi orang kamu mesti membela diri,” ujar dia.