Guncangan Spiritual di Baitul Maqdis: Kelahiran Yahya dan Maryam Sebagai Teguran bagi Bani Israil
Miftah yusufpati
Selasa, 14 April 2026 - 03:30 WIB
Sejarah mencatat bahwa hidayah tidak selalu berbanding lurus dengan keajaiban yang kasat mata. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah Bani Israil adalah potret sebuah kaum yang berjalan di atas titian sempit antara kemuliaan dan kehinaan. Dalam catatan panjang nubuwat, mereka dikenal sebagai umat yang diberkati sekaligus yang paling sering mencatatkan pemberontakan terhadap Allah Taala. Sifat keras kepala, kegemaran melanggar perintah, hingga sinkretisme yang ganjil antara menyembah Allah dan memuja patung, menjadi latar belakang sosiologis yang pekat.
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya, Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang, memotret kondisi kaum ini sebagai masyarakat yang kehilangan roh spiritualitasnya. Mereka membeku dalam ritual tanpa makna dan terjebak dalam labirin duniawi. Namun, ketika Allah berkehendak membangkitkan kembali kekuatan rohani kaum yang tengah tertidur panjang ini, skenarioSang Pencipta bekerja melalui serangkaian peristiwa di luar nalar matematika manusia.
Tanda pertama muncul dari rahim seorang wanita tua yang divonis mandul. Istri Imran, ulama besar di kalangan Bani Israil, melahirkan Maryam. Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir menjelaskan bahwa nadzar istri Imran untuk mempersembahkan janinnya demi berkhidmat di Baitul Maqdis adalah bentuk kepasrahan total di tengah masyarakat yang materialistik. Meski sempat masygul karena yang lahir adalah seorang perempuan—yang secara adat dinilai kurang sempurna untuk menjaga rumah suci—Allah justru menetapkan aturan berbeda. Allah menerima Maryam dengan penerimaan yang baik, melindunginya dari gangguan setan, dan menjadikannya simbol kesucian.
Keajaiban berlanjut di bawah pengasuhan Nabi Zakaria. Di dalam mihrab, tempat yang seharusnya steril dari interaksi pasar, Zakaria justru menjumpai aneka buah-buahan musim dingin di musim panas, dan sebaliknya. Dialog singkat antara Zakaria dan Maryam yang direkam dalam Surah Ali Imran ayat 37, "Makanan itu dari sisi Allah," menjadi tamparan halus bagi logika Bani Israil yang hanya percaya pada hukum sebab-akibat fisik.
Fenomena Maryam inilah yang memicu getaran rohani dalam diri Nabi Zakaria. Di usia yang telah renta dan dengan istri yang mandul, Zakaria memberanikan diri berdoa agar dikarunia seorang anak. Penulis Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menjelaskan bahwa tawasul yang digunakan Zakaria adalah tawasul yang paling dicintai Allah: menunjukkan kefakiran dan kebutuhan mutlak seorang hamba di hadapan Sang Khalik.
Respons Ilahi datang secepat kilat. Sebelum Zakaria meninggalkan mihrab, kabar tentang kelahiran Yahya disampaikan. Yahya bukan sekadar anak, ia dirancang menjadi mukjizat kedua bagi Bani Israil. Ia adalah simbol ketaatan (wara), kezuhudan, dan bakti kepada orang tua di tengah kaum yang gemar mendurhakai leluhur dan nabi-nabi mereka. Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam kajiannya tentang hikmah para nabi sering menyebutkan bahwa kehadiran Yahya adalah persiapan mental bagi kaum tersebut sebelum menerima misi Nabi Isa.
Rentetan keajaiban ini—kelahiran Maryam yang tidak terduga dan kelahiran Yahya yang mustahil secara biologis—seharusnya menjadi pengingat bagi Bani Israil bahwa dunia tidak hanya berputar pada materi dan logika manusia. Ini adalah upaya sistematis untuk mencairkan kebekuan hati mereka yang telah lama mengunci diri dalam kekafiran. Kelahiran Yahya menjadi tanda kedua yang Allah berikan, sebuah fajar yang menyingsing sebelum cahaya yang lebih besar, yakni risalah Nabi Isa, benar-benar datang untuk meluruskan kebengkokan kaum yang keras kepala ini.
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya, Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang, memotret kondisi kaum ini sebagai masyarakat yang kehilangan roh spiritualitasnya. Mereka membeku dalam ritual tanpa makna dan terjebak dalam labirin duniawi. Namun, ketika Allah berkehendak membangkitkan kembali kekuatan rohani kaum yang tengah tertidur panjang ini, skenarioSang Pencipta bekerja melalui serangkaian peristiwa di luar nalar matematika manusia.
Tanda pertama muncul dari rahim seorang wanita tua yang divonis mandul. Istri Imran, ulama besar di kalangan Bani Israil, melahirkan Maryam. Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir menjelaskan bahwa nadzar istri Imran untuk mempersembahkan janinnya demi berkhidmat di Baitul Maqdis adalah bentuk kepasrahan total di tengah masyarakat yang materialistik. Meski sempat masygul karena yang lahir adalah seorang perempuan—yang secara adat dinilai kurang sempurna untuk menjaga rumah suci—Allah justru menetapkan aturan berbeda. Allah menerima Maryam dengan penerimaan yang baik, melindunginya dari gangguan setan, dan menjadikannya simbol kesucian.
Keajaiban berlanjut di bawah pengasuhan Nabi Zakaria. Di dalam mihrab, tempat yang seharusnya steril dari interaksi pasar, Zakaria justru menjumpai aneka buah-buahan musim dingin di musim panas, dan sebaliknya. Dialog singkat antara Zakaria dan Maryam yang direkam dalam Surah Ali Imran ayat 37, "Makanan itu dari sisi Allah," menjadi tamparan halus bagi logika Bani Israil yang hanya percaya pada hukum sebab-akibat fisik.
Fenomena Maryam inilah yang memicu getaran rohani dalam diri Nabi Zakaria. Di usia yang telah renta dan dengan istri yang mandul, Zakaria memberanikan diri berdoa agar dikarunia seorang anak. Penulis Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menjelaskan bahwa tawasul yang digunakan Zakaria adalah tawasul yang paling dicintai Allah: menunjukkan kefakiran dan kebutuhan mutlak seorang hamba di hadapan Sang Khalik.
Respons Ilahi datang secepat kilat. Sebelum Zakaria meninggalkan mihrab, kabar tentang kelahiran Yahya disampaikan. Yahya bukan sekadar anak, ia dirancang menjadi mukjizat kedua bagi Bani Israil. Ia adalah simbol ketaatan (wara), kezuhudan, dan bakti kepada orang tua di tengah kaum yang gemar mendurhakai leluhur dan nabi-nabi mereka. Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam kajiannya tentang hikmah para nabi sering menyebutkan bahwa kehadiran Yahya adalah persiapan mental bagi kaum tersebut sebelum menerima misi Nabi Isa.
Rentetan keajaiban ini—kelahiran Maryam yang tidak terduga dan kelahiran Yahya yang mustahil secara biologis—seharusnya menjadi pengingat bagi Bani Israil bahwa dunia tidak hanya berputar pada materi dan logika manusia. Ini adalah upaya sistematis untuk mencairkan kebekuan hati mereka yang telah lama mengunci diri dalam kekafiran. Kelahiran Yahya menjadi tanda kedua yang Allah berikan, sebuah fajar yang menyingsing sebelum cahaya yang lebih besar, yakni risalah Nabi Isa, benar-benar datang untuk meluruskan kebengkokan kaum yang keras kepala ini.
(mif)